Farhat Abbas: Gagal Masuk KPK, Capres, Loloskah Bupati?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Farhat Abbas. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Farhat Abbas. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO , Jakarta: Nama Farhat Abbas muncul sebagai calon wakil bupati Bogor dari Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kubu Djan Farid. Bupati Bogor Nurhayanti mengaku sudah menerima surat rekomendasi pengajuan Farhat Abbas sebagai calon wakil bupati. DPP PPP kubu Djan Faridz merekomendasikan Farhat sebagai pendamping Nurhayanti.


    Tampilnya nama Farhat Abbas, mantan suami Nia Daniati itu, membuat kaget kader PPP Kabupaten Bogor. Ternyata rencana ini tak disambut positif. Wakil Sekretaris DPC PPP Kabupaten Bogor Yuyud Wahyudin tidak setuju Farhat Abbas menjadi calon Wakil Bupati Bogor.  "Siapa dia? Kok bisa seenaknya muncul tanpa track record yang jelas," ujar Yuyud.


    Farhat Abbas mengklaim dirinya sudah lama berkecimpung di dunia politik, khususnya bergiat di partai berlambang Ka’bah. Dia menyebut ajakan Djan untuk masuk ke PPP sesaat mantan Menteri Perumahan Rakyat itu terpilih sebagai Ketua Umum menggantikan Suryadharma Ali. “PPP mencari figur yang cocok untuk membawa Bogor lebih baik,” ujarnya.

    Tak hanya sekali ini saja Farhat Abbas mencalonkan untuk suatu jabatan. Setidaknya tiga kali ia pernah mengadu peruntungan di dunia politik. Apa saja?

    1. Calon Pimpinan KPK

    Dua kali Farhat mencoba peruntungan menduduki posisi pimpinan KPK. Lulusan Universitas Pasundan itu pernah memakai jurus lain ketika acara debat calon KPK di gedung Jakarta Media CenterR. Waktu itu Juni 2010, ia mencoba memikat dengan bernyanyi.

    "Bukannya apa-apa, tapi kalau lewat lagu biasanya jadi diperhatikan," kata Farhat sebelum bernyanyi. Lirik yang dia nyanyikan seperti ini: Bukan takut KPK, bukan takut mereka, tapi takut korupsi....

    Bukan cuma bernyanyi, Farhat mencantumkan sudah membuat novel berjudul "Sayur Emas" pada 2007.

    2. Calon Bupati Kolaka

    Farhat Abbas berpasangan dengan Sabarudin Labamba. Mereka maju dari jalur nonpartai atau independen. Pada pengundian nomor urut yang dilakukan pada 5 September 2013, Farhat sumringah mendapatkan nomor urut tiga.

    "Dalam Pancasila, sila ketiga berarti persatuan, jadi mantap ini dapat nomor tiga," katanya kepada wartawan. Namun, ia belum beruntung. Hasilnya Farhat hanya memperoleh  5.404 suara atau 3,23 persen.

    3. Calon Presiden

    Lulusan magister hukum Universitas Padjajaran pada 2008 ini tidak mau tanggung-tanggung. Pada 2012, ia menyatakan siap menjadi calon presiden. 

    Farhat Abbas berujar, ingin maju sebagai calon Presiden pada Pilpres 2014 menggunakan satu partai, yang tergolong partai gurem pada pemilihan umum 2014 . "Saya akan sumpah pocong dan bersumpah untuk tidak korupsi," kata Farhat Rabu, 26 Desember 2012.

    "Ini penting agar tidak berani berbohong, dan korupsi. Efeknya, mereka para pejabat berpikir ulang kalo mau korupsi," ujar pria kelahiran Tembilahan, Riau ini.

    Tidak jelas dengan siapa Farhat berpasangan. Namun pada 2013 ia pernah mengaku  kemungkinan menggandeng Permaisuri Raja Keraton Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, untuk mendampinginya sebagai calon wakil presiden 2014. "Beliau punya figur seorang ratu, juga duduk di Dewan Perwakilan Daerah. Selain itu, tak pernah ada masalah atau cacat hukum. Itu kekuatan besar," kata Farhat di Yogyakarta.

    EVAN | PDAT | Pelbagai sumber


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.