AJI Desak Polisi Utamakan Laporan Wartawan Korban Kekerasan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Anti Kekerasan (AJAK) berunjuk rasa

    Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Anti Kekerasan (AJAK) berunjuk rasa "Stop Kekerasan terhadap Jurnalis" di depan monumen Chairil Anwar, Kayutangan, Malang, Jawa Timur, (26-11). TEMPO/STR/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Bekasi - Aliansi Jurnalis Independen meminta kepolisian untuk mengedepankan upaya penindakan atas laporan pidana Undang-undang Pers dibandingkan menindaklanjuti soal pengaduan pencemaran nama baik. Hal ini berkaitan dengan kasus kekerasan yang menimpa wartawan Radar Bekasi, Randy Yosetiwawan. Dia adalah korban pemukulan orang yang diduga suruhan ketua DPD PAN Kota Bekasi dan DPC PAN Bekasi Utara pada 19 Februari 2015.

     Usai mengadukan tindak kekerasan yang menimpa dirinya ke kepolisian, Yosetiawan lantas dilaporkan balik oleh ketua DPC PAN Bekasi Utara, dengan tuduhan pencemaran nama baik. "Polisi harus melakukan penindakaan lex spesialist karena jelas tindakan yang dilakukan pelapor terhadap korban ada unsur pelanggaran terhadap UU Pers," kata Ketua Umum AJI Suwarjono saat dihubungi Tempo melalui sambungan telepon, Selasa, 7 April 2015.

     Jurnalis, menurut Suwarjono, dalam melakukan tugasnya audah jelas mendapat perlindungan sesuai dengan Undang-undang Pers. "Jurnalis bisa mengadukan mereka yang menghalang-halangi bekerja karena dengan asas pelanggaran terhadap Pasal 18 UU Pers," kata dia.

     Menurut Suwarjono, dalam Pasal 18 ayat 1 Undang-undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers mengatur tentang ancaman pidana yaitu setiap orang yang melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan (3) dipidana dengan penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta.

     "Jangan sampai proses hukum ini dibolak-balik. Mereka bersalah malah mengadukan balik. Ini ranah pidana baiknya ada fakta dan faktanya cukup jelas sepanjang fakta bisa dan harus diselidiki," kata Suwarjono.

     Melihat kondisi ini, menurut dia, AJI mendesak kepolisian untuk mengedepankan penindakan atas laporan pindana yang dilakukan Yosetiawan sebagai korban. "Kami mendesak kepolisian mengusut siapa pemukul korban, bukannya menerima dan memverifikasi atau malah menerima pengaduan baru," ucap Suwarjono. "Pelaporan tindak kekerasan dan pelanggaran UU Pers harus didahulukan. Ini jadi terkesan korban malah akan menjadi yang dipidanakan," kata Suwarjono.

    Randy Yosetiawan Priogo, 27 tahun dipukuli oleh tiga orang tak dikenal di sebuah rumah makan di Jalan Serma Marzuki, Kecamatan Bekasi Selatan, pada 19 Februari 2015, pukul 17.00 WIB. Saat itu, wartawan Harian Radar Bekasi tersebut bertemu dengan Ketua DPC Bekasi Utara, Iryansyah dan ketua DPD Kota Bekasi, Faturahman.

    "Saya diundang, mereka ingin klarifikasi berita," kata Randy kepada Tempo, Jumat, 20 Februari 2015. Berita yang dimaksud ialah berjudul "DPC Bekasi Utara Sebut Pimpinan DPD Masa Bodo", edisi 18 Februari 2015.

    Hanya berselang beberapa menit kemudian, tiga orang tak dikenal tiba-tiba mengeroyok Randy. Ia melihat kalau ketua DPD memberikan isyarat kepada tiga orang pelaku pengeroyokan sebelum insiden tersebut. "Saya dijebak, ini jelas ada keterkaitannya dengan pemberitaan," kata Randy.

    Padahal menurut Randy, sebelum berita dimuat, dia telah melakukan verifikasi data dan konfirmasi ke sejumlah narasuber yang kompeten. Randy menjadi korban penganiayaan hingga mengalami luka memar di wajah, lengan, serta punggung. "Saya dipaksa menyerahkan KTP (Kartu Tanda Penduduk)," kata Randy.

    Atas kejadian itu, Randy melaporkan kasusnya ke Kepolisian Resor Kota Bekasi dengan nomor LP/278/K/II/2015/SPKT/Resta Bekasi Kota.


    AISHA SHAIDRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.