Jabodetabek Jadi Percontohan Kota Transportasi Berkelanjutan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja melakukan pengerjaan pembangunan  jalur transportasi Light Rail Transit (kereta ringan) di sisi jalan tol Jagorawi, Kampung Makasar, Jakarta Timur, 29 Januari 2017. TEMPO/Imam Sukamto

    Pekerja melakukan pengerjaan pembangunan jalur transportasi Light Rail Transit (kereta ringan) di sisi jalan tol Jagorawi, Kampung Makasar, Jakarta Timur, 29 Januari 2017. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Jabodetabek akan menjadi proyek percontohan kota dengan transportasi berkelanjutan yang digagas oleh badan di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berfokus pada ekonomi dan transportasi perkotaan, yaitu "United Nations - Economics and Social Commisions for Asia and the Pacific" (UN-ESCAP).

    Direktur Divisi Transportasi ESCAP Yuwei Li saat mengunjungi proyek "mass rapid transit" (MRT) Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Jumat (3 Maret 2017), mengatakan terdapat 10 indikator untuk mengukur keberlanjutan transportasi perkotaan, contohnya penggunaan angkutan umum, keselamatan di jalan, lingkungan, biaya dan lainnya.

    "Kota Jakarta dan sekitarnya akan dievaluasi berdasarkan indikator-indikator tersebut, nanti kita bisa lihat apakah memenuhi atau tidak," katanya.

    Dia mengatakan penilaian tersebut akan dilakukan pada tahun ini dan melibatkan sejumlah tenaga ahli dari PBB.

    "Kita tunggu otoritas transportasi Jabodetabek, baru kemudian akan dilakukan kesepakatan, dari situ kita bisa mulai," katanya.

    Terkait kunjungannya melihat progres pembangunan MRT, Li menilai merupakan proyek yang signifikan karena bisa memberikan alternatif angkutan umum perkotaan, ditambah dengan keterpaduan dengan moda lain, seperti bus (Transjakarta), kereta rel listrik (KRL) serta keterjangkauan dari permukiman.

    Dalam kesempatan sama, Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek Elly Adriani Sinaga mengatakan proyek percontohan tersebut akan memberikan rekomendasi terkait langkah-langkah untuk memajukan kota Jabodetabek setara dengan kota-kota di dunia.

    "Dengan adanya indikator tersebut, kita jadi tahu kemana untuk mencapai kota yang berkelanjutan, salah enggak kebijakan-kebijakan kita selama ini, karena dunia sudah terlibat, kita jadi tidak ketinggalan, Jabodetabek jadi salah satu kota yang diukur, " katanya.

    Selain itu, menurut dia, dengan dibangunnya moda transportasi perkotaan yang masif, sepeti MRT, kereta ringan (LRT) serta kereta bandara, Jakarta, akan jadi peradaban baru.

    "Akan terjadi lompatan dari yang tadinya standarnya rendah, mudah-mudahan di awal 2019, kita melompat jauh, kemarin juga ada instruksi dari Presiden untuk mempercepat pembangunan MRT Tahap 2 dan Barat ke Timur (Cikarang-Balaraja)," katanya.

    Untuk itu, dia mengatakan pihaknya juga akan berfokus pada integrasi antarmoda sebagai salah satu poin penting keberlanjutan transportasi perkotaan tersebut.

    "Sekarang BPTJ kerja sama dengan sejumlah operator untuk integrasi itu, intinya kita sudah percaya diri jadi kota levelnya dunia, untuk itu kita kerja harus lebih hati-hati dan lebih cepat," katanya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.