Bekasi Berusaha Alihkan Pengguna Kendaraan Pribadi ke Angkot

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah perahu eretan mengangkut sepeda motor dan warga yang akan menuju Babelan Bekasi di Pasar Emas, Bekasi, Rabu (9/5) Perahu eretan saat ini masih menjadi sarana transportasi pilihan warga yang menghubungkan Bekasi dan Karawang. TEMPO/Dasril Roszandi

    Sebuah perahu eretan mengangkut sepeda motor dan warga yang akan menuju Babelan Bekasi di Pasar Emas, Bekasi, Rabu (9/5) Perahu eretan saat ini masih menjadi sarana transportasi pilihan warga yang menghubungkan Bekasi dan Karawang. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Dinas Perhubungan Kota Bekasi, Jawa Barat, mencatat jumlah kendaraan pribadi di wilayahnya lebih dari dua juta unit. Kendaraan itu dituding menjadi biang kemacetan. "Perbandingannya 40 persen roda empat dan 60 persen roda dua," kata Kepala Dinas Perhubungan Kota Bekasi, Yayan Yuliana, Senin, 10 April 2017.

    Sedangkan angkutan perkotaan dianggap menjadi biang kemacetan di lokasi-lokasi tertentu. "Ada 13 titik kemacetan yang mesti diselesaikan." Karena itu, ujar Yayan, Pemerintah Kota membentuk Dewan Transportasi untuk menyelesaikan masalah kemacetan. Dewan akan merumuskan strategi menghilangkan kemacetan dan mengatasi masalah transportasi lainnya.

    Baca:
    Perbaiki Masalah Trasnportasi, Bekasi Bentuk Dewan Transportasi
    Polisi: Bebas Ganjil-Genap di Semanggi Hanya Pagi Har

    Ketua Dewan Transportasi Kota Bekasi, Harun Alrasyid mengatakan, kemacetan di Kota Bekasi dipicu pertumbuhan kendaraan yang cukup pesat dibanding pertumbuhan jalan. "Pertumbuhan kendaraan dampak dari positifnya pertumbuhan ekonomi," ujar Harun.

    Harun mengatakan jumlah kendaraan di Kota Bekasi sangat jauh dibanding 10 tahun lalu. Namun, seiring pertumbuhan ekonomi, masyarakat kelas menengah saat ini sudah mampu membeli kendaraan pribadi. "Sedangkan, kondisi angkutan perkotaan lama-lama dianggap tidak nyaman."

    Baca juga:
    Lurah Pegadungan Tertangkap Tangan, Ahok: Harus Dipecat!
    Tertangkap Tangan Pungli, Lurah Pegadungan Sudah Aktif Lagi

    Walhasil, kata Harun, masyarakat merasa lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi untuk setiap keperluan. Dampaknya, jalanan di Kota Bekasi penuh, sejumlah ruas jalan utama padat dengan kecepatan kendaraan di bawah 30 kilometer per jam.

    Menurut Harun, sebetulnya masyarakat sadar kalau penggunaan kendaraan itu menimbulkan kemacetan. Namun, mereka tetap menggunakannya lantaran tak ada alternatif lain. "Mereka akan pindah ketika angkutan sudah nyaman."

    Karena itu, Dewan Transportasi akan mengkaji langkah untuk memindahkan penggunaan kendaraan pribadi ke angkutan perkotaan. Misalnya, ada halte-halte kecil yang representatif di depan kawasan perumahan. "Angkutannya harus lebih nyaman dari sekarang," ujar Harun.

    ADI WARSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.