Bayi Dibuang Saat Gerhana Bulan Bikin Geger Gunung Putri

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bayi. indiatimes.com

    Ilustrasi bayi. indiatimes.com

    TEMPO.CO, Bogor – Warga Villa Nusa Indah 2, Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor geger usai pengamatan gerhana bulan Sabtu subuh, 28 Juli 2018. Penyebabnya, penemuan sebuah kardus berisi bayi di pelataran masjid setempat.

    Baca:
    Bayi Dibuang di Depok, Netizen Hujat Orang Tua dan Ingin Adopsi
    Viral Radiasi Akibat Gerhana Bulan, BMKG Bilang Begini

    Pelataran Masjid Baiturahman tempat ditemukan bayi dibuang tersebut langsung ramai. “Ditemukan sekitar Pukul 04.40, di Blok CC,” kata Kapolsek Gunung Putri, Komisaris Yudi Kusyadi saat dikonfirmasi Tempo, Sabtu sore 28 Juli 2018.

    Yudi menduga bayi perempuan dalam kardus baru dilahirkan lalu dibuang sekitar Pukul 03.00. Saat itu sebagian masyarakat sedang tertidur pulas atau yang lain fokus menyaksikan fenomena gerhana bulan total terlama. “Memang tidak ada ari-ari, tapi dilihat dari fisik bayi, diperkirakan belum lama dilahirkan,” kata Yudi.

    Yudi menambahkan, penemuan berawal saat jemaah masjid yang sedang melaksanakan salat subuh mendengar tangisan bayi. Selesai salat, jemaah menghampiri sumber suara dan menemukan dus bekas mie instan. “Dan dibuka ternyata bayi perempuan yang masih hidup,” kata Yudi lagi.

    Baca juga:
    Pergantian Pejabat Disoal, Anies Baswedan Sebut KASN Bukan Partai

    Bayi segera dibawa ke bidan desa untuk diperiksa kesehatannya, serta melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Gunung Putri. Laporan ditindaklanjuti dengan polisi yang datang dan mengumpulkan keterangan terkait bayi dibuang tersebut.

    Bayi setelahnya diantar ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dan menyiapkan keperluan bayi tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.