Raja Kerajaan Ubur Ubur Telah Bertobat, Ini Pengakuannya

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aisyah Tusalamaja Baiduri Intan, pemimpin Kerajaan Ubur Ubur. Youtube.com

    Aisyah Tusalamaja Baiduri Intan, pemimpin Kerajaan Ubur Ubur. Youtube.com

    TEMPO.CO, Serang - Majelis Ulama Indonesia atau MUI Kota Serang menyatakan Aisyah Tusalamah Baiduri Intan, yang mengaku sebagai raja Kerajaan Ubur Ubur, telah meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat pada Jumat lalu. Dalam kesempatan itu, Aisyah juga mengaku telah berbuat khilaf dan menyatakan bertobat.   

    Baca:
    Dokumen Kerajaan Ubur Ubur, Polisi: Makin Ditelaah Bikin Pusing

    "Aisyah sudah menyampaikan permintaan maafnya secara terbuka, dia juga mengaku bertobat," ujar Sekretaris Umum MUI Kota Serang, Amas Tajuddin, Sabtu, 25 Agustus 2018.

    Aisyah menyampaikan pertobatan secara terbuka di depan semua ketua RT di Rukun Warga 07 Sayabuluh, Kota Serang, Kapolres Kota Serang Ajun Komisaris Besar Komarudin, dan pengurus MUI Kota Serang. "Saya minta maaf dan bertobat bahwa apa yang saya lakukan dan yakini selama ini adalah sebuah kekeliruan dan kesalahan," kata Aisyah.

    Menurut Aisyah, kekhilafan itu terjadi karena ia terlalu bersemangat melakukan kajian terjemahan Al-Quran. "Saya berjanji tidak akan mengulangi lagi dan bersedia dibina oleh MUI," kata Aisyah, seraya membaca syahadat dan beristigfar.

    MUI Kota Serang menerima permintaan maaf dan tobat Aisyah tersebut. "Siapa pun yang meminta maaf dan mengakui kekeliruan, anggap sedang tersesat di jalan dan butuh bimbingan," kata Amas.

    Baca juga:
    Fariz RM Tiga Kali Kasus Narkoba, Ini Kronologi Peristiwanya
    Kasus Kokain Richard Muljadi, Polisi Izinkan Keluarga Menjenguk

    Namun permintaan maaf Aisyah ini tidak secara serta-merta mempengaruhi proses hukum. Polisi telah menetapkan Aisyah sebagai tersangka ujaran kebencian di media sosial. Perempuan 38 tahun itu dijerat menggunakan  Pasal 28 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

    Selain itu, masyarakat di lingkungan tempat tinggal Aisyah tetap menolak perempuan itu terus menetap di sana. Masyarakat khawatir pengikut Kerajaan Ubur Ubur akan kembali menjalankan aktivitas jika Aisyah masih di Sayabuluh. "Seluruh RT dan RW menyatakan keberatan Aisyah kembali ke rumahnya," kata Amas.
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    KPK Berencana Menghapus Hasil Penyadapan 36 Perkara

    Terdapat mekanisme yang tak tegas mengenai penghapusan hasil penyadapan 36 penyelidikan yang dihentikan KPK.