Ini Tiga Alasan Ahmad Dhani Ngotot Ingin Ganti Presiden

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Usai mengalami penolakan masa anti #2019GantiPresiden, Ahmad Dhani akan tetap lakukan demokrasi di Jawa Timur. TEMPO/Ade Jovano

    Usai mengalami penolakan masa anti #2019GantiPresiden, Ahmad Dhani akan tetap lakukan demokrasi di Jawa Timur. TEMPO/Ade Jovano

    TEMPO.CO, Jakarta - Setelah bergabung dengan Partai Gerindra, musisi Ahmad Dhani semakin serius menjalani karier sebagai politisi. Kalah dalam Pilkada Kabupaten Bekasi 2017, tak membuat pentolan grup band Dewa 19 ini surut langkah. Dia telah mendaftar untuk peruntungan di Pemilu 2019 dengan mencalonkan diri sebagai anggota parleman.

    Sebagai kader Gerindra, Dhani sangat yakin ketua partainya, Parbowo Subianto, bakal memenangkan pemilihan presiden tahun depan. Karena itu, dia semakin aktif menyerukan gerakan #2019GantiPresiden.

    Menurut Dhani, ada tiga alasan yang membuatnya ngotot ingin ada pergantian presiden. Pertama, ia beranggapan bahwa pertumbuhan ekonomi di era Presiden Joko Widodo tidak berhasil. Selama 4 tahun kepemimpinan Jokowi, pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen. "Jadi presiden yang ini tidak berhasil selama 4 tahun menumbuhkan ekonomi," kata Dhani.

    Dhani juga menilai Jokowi terlalu lama dalam mengatasi kemiskinan. Ditambah lagi utang-utang negara yang semakin membengkak. "Yang kedua, ingin cepat mengatasi kemiskinan,” katanya. “Presiden yang ini cuma mengurangi kemiskinan 1,1 persen saja, sementara presiden yg lain 3 persen, 4 persen, 5 persen.”

    Terakhir, kata Dhani, soal persatuan umat. Menurutnya, Presiden Jokowi gagal menyatukan umat sehingga saat ini Indonesia terpecah belah. "Saya ingin presiden baru, supaya umat tidak terbelah," ujarnya.

    Sebelumnya, pendapat Dhani tentang pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan dan utang negara pernah disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam beberapa kesempatan.

    Sri Mulyani memang menyebutkan pertumbuhan ekonomi semester I 2018 berada pada 5,1 persen. Pertumbuhan ini terutama didukung oleh peningkatan investasi dan perdagangan internasional. Dia optimistis, pada semester II pertumbuhan berada di 5,8 persen.  

    Sedangkan untuk angka kemiskinan, Sri Mulyani mengutip data Badan Pusat Statistik tentang tingkat kemiskinan per Maret 2018 yang berada di angka 9,82 persen. Dia menyebut, penurunan di bawah 10 persen itu merupakan sejarah baru bagi Indonesia.

    Untuk utang negara yang dipermasalahkan Ahmad Dhani, sebelumnya Sri Mulyani juga pernah menjelaskan, pembayaran pokok utang tahun 2018 sebesar Rp 396 triliun dihitung berdasarkan posisi utang per akhir Desember 2017. Dari jumlah itu, 44 persen adalah utang yang dibuat pada periode sebelum era Presiden Jokowi.  

    EDO JOVANO | SSN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.