Pengakuan Geng Motor: Tak Ada Lawan, yang Ada di Tempat Disikat

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Barat Komisaris Besar Hengki Haryadi (dua dari kiri) memegang salah satu senjata yang digunakan oleh anggota geng motor saat konferensi pers di kantornya, Selasa, 19 Februari 2019. Tempo/M Yusuf Manurung

    Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Barat Komisaris Besar Hengki Haryadi (dua dari kiri) memegang salah satu senjata yang digunakan oleh anggota geng motor saat konferensi pers di kantornya, Selasa, 19 Februari 2019. Tempo/M Yusuf Manurung

    TEMPO.CO, Jakarta - Kapolres Metro Jakarta Barat Komisaris Besar Hengki Haryadi mengungkap pengakuan para anggota geng motor yang ditangkap karena kriminalitas yang mereka lakukan. Penganiayaan dilakukan terhadap orang lain hanya karena kesal tak bertemu geng motor lain untuk tawuran.

    Baca:
    Polisi: Ada Peran Alumni dalam Kriminalitas Geng Motor Pelajar

    "Gak ketemu lawan, yang ada di tempat disikat sama dia," kata Hengki saat konferensi pers di kantornya, Selasa 19 Februari 2019.

    Sepeda motor korban dibawa kabur pun bukan atas dasar perencanaan. Tapi karena melihat pemiliknya sudah terkapar dan sepeda motor teronggok begitu saja. "Karena motornya menganggur jadi diambil sama dia," kata Hengki melanjutkan.

    Dua kasus penganiayaan geng motor di Jakarta Barat pada dua bulan terakhir menunjukkan bahwa korban memang bukan bagian geng motor. Kasus pertama, penganiayaan anggota geng motor yang mengakibatkan meninggalnya Adam Ilham.

    Baca: 
    Kata Polisi soal Anggota Geng Motor Berusia Anak dan Istilah Tank

    Kasus itu bermula saat Adam dan tiga rekannya menggunakan dua sepeda motor mengisi bensin di SPBU pada Ahad 20 Januari 2019, pukul 04.00 WIB. Setelah mengisi bensin, kelompok korban melewati Gang Thalib, di Krukut, Tamansari. Lokasi tersebut merupakan tempat nongkrong kelompok geng motor Gasbar 03 yang disangka pelaku penganiayaan.

    "Saat dikejar, korban terjatuh di Jalan Raya Tanah Sereal Raya dan langsung dibacok secara bergantian oleh para pelaku dengan celurit dan klewang," ujar Kapolsek Tambora Komisaris Iver Son Manossoh, Rabu 23 Januari 2019.

    Kasus kedua terjadi pada 5 Februari 2019. Ahmad Al Fandri tewas dibacok oleh anggota geng motor di kawasan Tanjung Duren. Kasus bermula saat gerombolan geng motor melewati Jalan Tubagus Angke bersama teman-temannya mengendarai sepeda motor.

    Baca:
    Anggota Geng Motor Telan Tramadol sebelum Keliling Cari Lawan

    Tersangka lantas melihat Ahmad dan teman-teman yang berboncengan sepeda motor melintas mendahului. Tak terima di dahului, para tersangka mengejar korban. Setelah mendekat, korban dipepet hingga terjatuh dari sepeda motor. Kemudian, dua tersangka membacok korban beberapa kali.

    "Melihat korban sudah tidak berdaya, sepeda motor yang dikendarai korban diambil oleh AA dan dibawa pergi oleh tersangka geng motor," ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Edy Suranta Sitepu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anwar Usman dan 8 Hakim Sidang MK dalam Gugatan Kubu Prabowo

    Mahkamah Konstitusi telah menunjuk Anwar Usman beserta 8 orang hakim untuk menangani sengketa pemilihan presiden 2019.