Cerita Said Iqbal Soal Ratna Sarumpaet Minta Bertemu Prabowo

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa kasus berita bohong, Ratna Sarumpaet bersama anaknya, Atiqah Hasiholan saat menuju ruang sidang untuk menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, 9 April 2019.  TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Terdakwa kasus berita bohong, Ratna Sarumpaet bersama anaknya, Atiqah Hasiholan saat menuju ruang sidang untuk menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, 9 April 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta -Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal bercerita bagaimana dirinya menjadi penyambung terdakwa Ratna Sarumpaet yang ingin bertemu calon presiden Prabowo Subianto.

    Tujuannya, kata Said, Ratna ingin menceritakan ihwal cerita penganiayaannya kepada Ketua Umum Partai Gerindra itu.

    Baca : Said Iqbal Bersaksi Soal Tiga Pesan Prabowo ke Ratna Sarumpaet

    “Saat itu kami belum tahu kalau cerita Kak Ratna bohong,” ujar Said saat memberi kesaksian di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, 9 April 2019.

    Menurut cerita Said, pada tanggal 28 September 2018 sekitar pukul 22.00 dirinya menerima telefon dari Ratna Sarumpaet.

    Mantan aktivis itu mengatakan dirinya habis dianiaya dan ingin bertemu Said yang saat itu sedang di tengah perjalanan. “Kak Ratna minta saya datang ke rumahnya di daerah Tebet,” ujar Said.

    Di kediamannya, Ratna bercerita kepada Said kalau dirinya mengalami penganiayaan di daerah Bandara Hussein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, pada 21 September.

    Dia juga sempat menunjukkan kepada Said foto wajahnya dalam kondisi lebam. Said sempat menyarankan Ratna untuk melapor ke polisi dan divisum, namun ditolak.

    Dalam pertemuan itu lah, kata Said, Ratna meminta dipertemukan dengan Prabowo Subianto. Said memang kerap menjadi penyambung orang-orang yang ingin bertemu dengan Prabowo.

    Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, koordinator juru bicara Badan Pemenangan Nasional Dahnil Anzar Simanjuntak, beserta tim suksesnya mengadakan konferensi pers terkait dugaan penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet di Jalan Kertanegara 4, Jakarta Selatan, Selasa malam, 2 Oktober 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Sebelumnya, kata Said, Ratna bercerita kalau sudah sempat berbicara dengan Fadli Zon untuk mengagendakan pertemuannya dengan Prabowo

    Keesokan harinya, tanggal 29 September 2018, Said menyampaikan keinginan Ratna kepada ajudan Prabowo bernama Dani. Ia juga mengirimkan tiga buah foto wajah lebam Ratna. “Dani baru membalas pada tanggal 1 Oktober 2018 dan menyatakan kalau Pak Prabowo bersedia bertemu Kak Ratna tanggal 2 Oktober di Lapang Polo, Bogor, Jawa Barat,” tutur Said.

    Dalam pertemuan antara Ratna dengan Prabowo, turut hadir juga Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fadli Zon, Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional Amien Rais, Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga, Nanik S Deyang, serta Said Iqbal.

    Ratna, kata Said, lebih banyak diam dan hanya bercerita sepotong-sepotong. Ratna dan Prabowo, kata Said, duduk berdampingan. “Obrolan mengalir saja. Tidak ada pembicaraan soal rencana konferensi pers,” ucap dia.

    Simak juga :
    Apa Dicari JPU dari Said Iqbal di Sidang Ratna Sarumpaet Hari Ini?

    Selain Said, Jaksa Penuntut Umum menghadirkan tiga orang saksi lainnya dalam persidangan hari ini. Mereka adalah Ruben dan dua pendemo bernama Chairulah dan Harjono.

    Dalam persidangan sebelumnya, nama Ruben sempat disebut-sebut datang ke rumah Ratna Sarumpaet usai kabar penganiayaan itu menyebar. Ruben saat ini tengah ditahan di Rutan Polda Metro Jaya sebagai tersangka dalam kasus dana para raja sebesar Rp 23 triliun.

    Tonton: Aksi Prabowo Pukul Podium Saat Kampanye Ditenangkan Amien Rais


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.