Petisi Copot, Anies: Dicaci Tak Tumbang, Dipuji Tak Terbang

Reporter:
Editor:

Ali Anwar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ditemani putranya, Ismail berbincang dengan sejumlah petugas kesehatan yang berjaga di kawasan sekitar Kantor Bawaslu RI di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Jumat 24 Mei 2019 malam. Foto/Twitter/Aniesbaswedan

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ditemani putranya, Ismail berbincang dengan sejumlah petugas kesehatan yang berjaga di kawasan sekitar Kantor Bawaslu RI di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Jumat 24 Mei 2019 malam. Foto/Twitter/Aniesbaswedan

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku tak keberatan dengan kritik yang memintanya dicopot dari kursi gubernur DKI Jakarta. Menurut Anies, tidak ada larangan sama sekali seseorang menyampaikan kritik kepada dirinya. 

    Baca juga: Petisi Copot Anies di Change.org Mencuat, Beberapa Rindu Ahok

    "Setiap warga negara berhak menyampaikan pandangannya, tidak ada larangan sama sekali," ujar Anies di Kawasan GBK, Jakarta Pusat, Ahad, 26 Mei 2019.

    Menurut Anies, posisinya sebagai pejabat publik membuatnya harus siap menerima kritik hingga cacian. Ia bahkan mengutip cuitannya mengenai kesiapan pejabat publik dalam menerima kritik. 

    "Kalau di wilayah publik jangan minta dipuji saja, tapi harus siap dicaci-maki, diminta turun atau naik. Dicaci tidak tumbang, dipuji tidak terbang," ujar Anies. 

    Sebelumnya, desakan agar Anies dicopot dari kursi gubernur muncul di laman penggalangan suara change.org. Desakan itu ditunjukkan kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan Kementerian Dalam Negeri serta telah dilakukan sejak sepuluh bulan lalu. 

    Petisi online itu diusulkan oleh akun Opini Kamu dengan menargetkan 150 ribu suara. Sampai berita ini dibuat, Ahad sore, 26 Mei 2019 telah terkumpul 131.616 suara. 

    "Kegagalan demi kegagalan disertai kejanggalan telah membuat DKI Jakarta sebagai ibukota negara Republik Indonesia semakin terpuruk di bawah kepemimpinan Saudara Anies Baswedan," bunyi si pembuat petisi, Opini Kamu.

    Beberapa alasan akun itu mengajukan petisi, antara lain gaji Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) yang mencapai Rp 70 juta per orang, banjir yang muncul kembali, diskotek yang dulu tutup kembali dibuka, sampah, pohon plastik, PKL yang merajalela hingga membengkaknya APBD. 

    Beberapa warganet merindukan kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, gubernur DKI Jakarta yang dinyatakan terbukti bersalah melakukan penodaan agama karena pernyataan soal Surat Al-Maidah 51 saat berkunjung ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. “Jakarta perlu pemimpin yg bener terbukti seperti pemimpin sebelumnya,” Johan Sutanto.

    “Saya menandatangani petisi ini karena Ahok yg terbaik,” ujar Toyo Bae. “Kembalikan AHOK...!!!!!,” ujar Goesman Santoso.

    Baca juga: Jawab Anies Baswedan atas Sebutan Humas Aksi 22 Mei

    Soal alasan pengajuan petisi itu, Anies mengaku tak keberatan. Menurut dia pejabat merupakan tempatnya menampung keluh kesan. "Saya tambahkan twit saya lagi nih, alamat keluh kesah adalah pejabat publik, kalau mau jadi pejabat publik maka harus siap untuk menjadi alamat caci maki," ujar Anies


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.