Mudik Lebaran, Bus Tayo Tangerang Tetap Beroperasi

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Buslane Trans Jabotabek yang terparkir akibat minimnya penumpang di Terminal Poris Plawad, Tangerang, Banten (7/4). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

    Buslane Trans Jabotabek yang terparkir akibat minimnya penumpang di Terminal Poris Plawad, Tangerang, Banten (7/4). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

    TEMPO.CO, Tangerang - Pemerintah Kota Tangerang tetap mengoperasikan layanan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Tangerang atau Tangerang Ayo (Tayo) selama mudik Lebaran.

    Baca: Berkah Mudik Lebaran untuk Pengusaha Oleh-oleh Khas Jakarta

    Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Tangerang Wahyudi Iskandar di Tangerang Rabu menuturkan, alasan tetap beroperasinya layanan BRT karena penggunanya banyak.

    "Saat menjelang Lebaran seperti ini, banyak warga yang menggunakannya. Maka itu kita tetap beroperasi saat mudik Lebaran," ujarnya, Wahyudi, Rabu 5 Juni 2019.

    Wakil Wali Kota Tangerang H. Sachrudin menambahkan, BRT adalah layanan transportasi yang disediakan untuk membantu warga terhindar dari kemacetan.

    Fasilitas yang nyaman di dalam bus dan tarif yang terjangkau, sangat baik digunakan warga untuk menuju ke suatu lokasi.

    Ke depannya, Pemkot Tangerang akan menambah koridor sehingga dapat menjangkau dari seluruh wilayah di Kota Tangerang.

    "Jadi, warga yang ingin menggunakan transportasi publik ke Terminal Poris bisa memakai BRT. Fasilitas yang nyaman dan harga terjangkau," ujarnya.

    Baca: Tes Kesehatan, 70 Persen Sopir Mudik Lebaran di Lebak Bulus Alami Hipertensi

    BRT Tangerang memiliki dua koridor yakni Koridor 1 jurusan Poris Plawad - Jatake dan Koridor 2 yakni Terminal Poris Plawad - Cibodas. Kedua koridor ini tetap beroperasi selama mudik Lebaran. Ada 10 unit armada bus untuk setiap koridornya dan tarif untuk sekali naik yakni Rp2 ribu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.