Kemarau, Konsumen: Uang Rp 200 Ribu Cuma Bisa Beli Cabe-cabean

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang menata tumpukan cabai di Pasar Senen, Jakarta, Senin, 8 Juli 2019. Harga cabai rawit kembali meroket di pasar tradisional di Jakarta. Bila sebelumnya harga cabai masih di kisaran Rp 40 ribu, sekarang sudah menembus Rp 70 ribu per kilogram. TEMPO/Tony Hartawan

    Pedagang menata tumpukan cabai di Pasar Senen, Jakarta, Senin, 8 Juli 2019. Harga cabai rawit kembali meroket di pasar tradisional di Jakarta. Bila sebelumnya harga cabai masih di kisaran Rp 40 ribu, sekarang sudah menembus Rp 70 ribu per kilogram. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Bogor - Musim kemarau menyebabkan harga beberapa barang kebutuhan pokok melonjak drastis di Kabupaten Bogor. Seperti yang diungkapkan seorang ibu rumah tangga, Winata (62). Ia mengatakan, sudah hampir tiga minggu harga sambako melonjak seratus persen bahkan lebih.

    “Cabai rawit kecil dari Rp 35 ribu sekarang mencapai Rp 80 ribu per kilogram,” kata Winata di Pasar Cibinong, Rabu 17 Juli 2019.

    Wina melanjutkan, selain harga cabai rawit, harga wortel dan sayur mayur juga merangkak naik. Dia menyebut harga terong dari Rp 8 ribu saat ini menjadi Rp 18 ribu per kilogram. 

    Cabai rawit merah, lanjut Wina, dari Rp 40 ribu kini menjadi Rp 70 ribu. Sedang cabai kriting dari Rp 60 ribu kini menjadi Rp 80 ribu per kilogram. “Biasanya Rp 200 ribu itu sudah bisa belanja macam-macam, ini cuma bisa belanja cabe-cabean,” kata Wina.

    Wina mengungkapkan, ada beberapa harga pangan yang turun seperti bawang merah. Komoditas ini dijual seharga Rp 28 ribu dari semula Rp 50 ribu.  

    Kepala Bidang Perdagangan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bogor, Jona Sijabat membenarkan adanya kenaikan harga pangan tersebut. Namun dirinya membantah jika kenaikan mencapai 100 persen.

    “Hanya sedikit saja kenaikannya tidak sampai seratus persen, dan nggak semua naik, daging sapi masih Rp 110 per kilo,” kata Jona, Rabu 17 Juli 2019

    Jona juga mengatakan, penyebab kenaikan harga karena saat ini memasuki musim kemarau. Meski begitu jumlah pasokan dipastikannya aman. Itu sebabnya dia menjelaskan belum akan ada operasi pasar. “Belum sampe ke sana, masih bisa dikendalikan,” kata Jona


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.