Pengakuan Pelapak Baju Kota Depok Nyambi Sebagai Copet

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi copet. protothema.gr

    Ilustrasi copet. protothema.gr

    TEMPO.CO, Depok -Tidak mampu membiayai empat orang anaknya yang beranjak dewasa, seorang penjual baju bekas nekat mencari pekerjaan sampingan sebagai copet.

    Marwan alias Babe, 53 tahun, penjual baju bekas di kawasan Pasar Senen, Jakarta, mengaku pekerjaan sampingannya sebagai pencopet dilakukan sejak 5 tahun kebelakang.

    “Untuk kebutuhan sehari-hari, spontan aja,” kata Marwan di Kantor Polresta Depok, Selasa 27 Agustus 2019.

    Marwan mengaku, profesinya sebagai pencopet dilakoni pada hari Sabtu dan Minggu, sementara hari lainnya ia gunakan untuk berdagang. “Paling besar bisa dapat Rp 1,5 juta sebulan dari kerja copet,” kata Marwan.

    Marwan mengatakan, dalam aksinya ia selalu bergerombol untuk membagi peran. Mulai dari pengalih perhatian, eksekutor, hingga orang yang menjual barang hasil curian.

    “Biasanya berempat, saya pengalih perhatian, kemudian temen saya yang eksekusi,” kata Marwan.

    Sudah 6 kota yang telah dijelajahi oleh Marwan, antara lain Sadang, Banten, Tegal, Bekasi, Cirebon dan Depok.

    Kepala Polresta Depok, Ajun Komisaris Besar Azis Andriansyah mengatakan, Marwan dan seorang temannya Gani (29) diringkus aparat usai melakukan aksinya di pusat perbelanjaan di kawasan Jalan Margonda.

    “Komplotan ini berjumlah 5 orang, baru dua yang tertangkap, sisanya masih dalam pengejaran,” kata Azis.

    Azis mengatakan, para pelaku melakukan aksinya secara random dan mengincar tempat keramaian. “Kebanyakan mereka lakukan aksinya di pusat perbelanjaan, dan dengan cara mengalihkan perhatian korbannya,” kata Azis.

    Azis mengatakan, pelaku copet yang diamankan terancam dengan Pasal 362 KUHP dan 363 KUHP dengan ancaman pidana penjara 7 tahun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.