Paparan Timbal, Bagaimana Perosotan Anak Bisa Sangat Berbahaya?

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anak bermain di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA)  di Jalan Taman Tanah Abang 3, Gambir, Jakarta, 24 Maret 2016. M Iqbal Ichsan/TEMPO

    Sejumlah anak bermain di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Jalan Taman Tanah Abang 3, Gambir, Jakarta, 24 Maret 2016. M Iqbal Ichsan/TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Hasil penelitian Yayasan Nexus3 menemukan 82 dari 119 peralatan bermain anak seperti perosotan, ayunan, dan jungkat-jungkit di 32 taman di Jakarta mengandung timbal yang sangat berbahaya. Konsentrasi logam berat itu sangat jauh di atas 90 ppm, menurut batas yang ditetapkan Program Lingkungan PBB  atau UNEP. 

    Kandungan timbal ditemukan pada cat yang digunakan di setiap alat bermain itu. Tertinggi didapati hingga 4.170 ppm di taman bermain di Jakarta Barat.

    Toxic Program Officer Nexus3, Sonia Buftheim, berujar bahwa timbal sangat berbahaya khususnya bagi anak-anak. Menurut dia, anak-anak menyerap 50 persen timbal lebih banyak dibandingkan orang dewasa. Alasannya, tingkat atau kesadaran higienis anak lebih rendah. 

    "Kalau dia megang itu (peralatan bermain dengan cat bertimbal), terus dia makan sesuatu, maka timbal akan ikut masuk," ujar Sonia saat ditemui Tempo, Jumat 25 Oktober 2019.

    Dalam penelitiannya, Nexus3 menemukan banyak lapisan cat pada peralatan bermain di setiap taman mengelupas. Anak-anak disebut berpotensi memegang serbuk cat saat bermain ayunan, jungkat-jungkit, dan sebagainya di taman.

    Selain melalui saluran pencernaan, timbal juga bisa masuk melalui pernapasan. Menurut Sonia, cat yang meluruh lalu bercampur dengan debu bisa dihirup anak-anak saat bermain di taman.

    Dalam paparan Nexus3 yang mengutip pernyataan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) disebutkan bahwa tidak diketahui batas paparan timbal yang aman untuk manusia. Bahkan tingkat paparan timbal yang rendah dapat menyebabkan masalah kesehatan seumur hidup.

    Timbal berbahaya terutama bagi otak anak-anak yang sedang berkembang, dan dapat menyebabkan penurunan tingkat kecerdasan (IQ) dan daya konsentrasi. Selain itu, juga menyebabkan gangguan kemampuan belajar, dan peningkatan risiko masalah perilaku. 

    Yayasan Nexus3 melakukan riset bersama IPEN, sebuah jaringan global LSM kepentingan publik untuk masa depan yang bebas racun. Nexus3 mengunjungi 32 taman di Jakarta itu pada Oktober 2019. Mereka mendeteksi peralatan bermain berlapis cat bertimbal pada 20 taman bermain umum dan 12 taman bermain untuk usia taman kanak-kanak di lima wilayah Jakarta menggunakan alat analisis X-Ray Fluorescence (XRF).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.