Anies Baswedan Kunjungi Kebakaran RS Mayapada, Cek Kondisi Pasien

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kebakaran. TEMPO/Subekti

    Ilustrasi kebakaran. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengecek langsung kebakaran RS Mayapada Hospital di Jalan Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin malam. Anies ingin memastikan upaya pemadaman dan kondisi pasien tertangani dengan baik.

    Anies yang masih berseragam baju batik Korpri mendatangi lokasi kebakaran dan meminta keterangan dari petugas. Dia ingin tahu penyebab kebakaran dengan menanyakan langsung kepada pengelola rumah sakit Mayapada Hospital.

    Anies mengatakan upaya pemadaman berlangsung cepat. Seluruh jajaran di wilayah itu juga merespons cepat sehingga situasi bisa terkendali. 

    "Pemadam bertindak cepat dan seluruh jajaran kita merespon cepat. Adapun tentang apa yang terbakar, berapa besar dan lainnya bisa tanya langsung pada pengelola rumah sakit saja," kata Anies.

    Menurut Anies, dia sengaja datang ke lokasi untuk memastikan seluruh jajaran merespons cepat. Baik camat maupun petugas pemadam kebakaran tiba tepat waktu.

    "10 unit pemadam sudah di lokasi, itu yang penting dan semua pasien sudah diamankan," katanya.

    Hasil perbincangan antara Anies dan pihak rumah sakit, pengelola merespon cepat kejadian dan memindahkan seluruh pasien ke ruang lobby dan lantai dua rumah sakit yang aman dari kebakaran.

    Kebakaran RS Mayapada Hospital terjadi sekitar pukul 19.05. Sebanyak 10 unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi yang tiba tepat waktu pada pukul 19.15. Berdasarkan data dari Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Selatan, api berasal dari lantai lima rumah sakit yang merupakan ruangan server.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?