Korban Longsor Sukajaya Kesulitan Dapat Air Bersih

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga korban bencana banjir bandang dan tanah longsor beraktivitas di posko pengungsian korban banjir bandang dan tanah longsor di SDN Sukajaya 03, Harkat Jaya, Sukajaya, Bogor, Jawa Barat, Jumat, 10 Januari 2020. ANTARA

    Warga korban bencana banjir bandang dan tanah longsor beraktivitas di posko pengungsian korban banjir bandang dan tanah longsor di SDN Sukajaya 03, Harkat Jaya, Sukajaya, Bogor, Jawa Barat, Jumat, 10 Januari 2020. ANTARA

    TEMPO.CO, Bogor - Warga korban longsor di Desa Cileksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor berharap perhatian lebih dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor. Kepala Desa Cileksa, Ujang Ruhyadi, mengatakan prioritas yang saat ini dibutuhkan oleh warga adalah akses air bersih.

    Ujang menyebut warga yang terdampak longsor, yakni sebanyak 4.174 jiwa dari 1.696 kepala keluarga mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Sebab beberapa sumber mata air yang ada di desa hancur dan tertimbun longsor. "Apalagi mereka yang di pengungsian, MCK barengan dan mengantre," kata Ujang di posko pengungsian Cileksa, Kamis 23 Januari 2020.

    Ujang mengatakan untuk mendapatkan akses air bersih beberapa warga mencoba membuat sumur yang ada di lokasi pengungsian. Sebab warga amat membutuhkan air untuk keperluan mandi, cuci dan kakus (MCK).

    Kepala desa menyatakan pada awal peristiwa longsor terjadi warga amat kesulitan mendapatkan air bersih dan hanya menggunakan air seadanya atau mengambil dari sumber air yang sangat jauh.

    Salah seorang warga Cileksa, Sudin (37 tahun), mengatakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di rumah harus mengambil air ke sumber di bukit desa. Dalam sehari ia bolak-balik mengambil air hingga enam kali. "Saya menimba dulu di sumur," kata Sudin.

    Ape, 34 tahun, mengatakan warga sangat berharap ada akses air bersih yang tidak hanya untuk MCK saja, tapi juga untuk kebutuhan minum. Dengan adanya akses air bersih, sebut Ape, warga tidak lagi bergantung kepada relawan.

    "Saat ini kami minum memanfaatkan air pemberian relawan. Jika tidak ada kami beli ke Pasir Madang," ucap Ape.

    M.A MURTADHO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.