BMKG Pastikan PSBB Bikin Kualitas Udara Jakarta Lebih Baik

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto udara suasana gedung bertingkat di kawasan Jalan Jendral Sudirman, Jakarta, Jumat, 3 April 2020.  Berdasarkan data dari situs pemantauan udara AirVisual.com pada Kamis 3 April pada pukul 12.00 WIB, Jakarta tercatat sebagai kota dengan indeks kualitas udara di angka 55 atau masuk dalam kategori sedang. ANTARA

    Foto udara suasana gedung bertingkat di kawasan Jalan Jendral Sudirman, Jakarta, Jumat, 3 April 2020. Berdasarkan data dari situs pemantauan udara AirVisual.com pada Kamis 3 April pada pukul 12.00 WIB, Jakarta tercatat sebagai kota dengan indeks kualitas udara di angka 55 atau masuk dalam kategori sedang. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat kualitas udara di Jakarta membaik setelah penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terkait COVID-19. Dengan penerapan PSBB Jakarta, mobilitas warga di ibu kota menurun. 

    "Meski dalam perhitungan masih menunjukkan adanya dinamika naik-turun, kualitas udara Jakarta secara umum mengalami perbaikan belakangan ini," kata Kepala Sub Bidang Informasi Pencemaran Udara BMKG Suradi dalam pernyataan yang disampaikan di Jakarta, Kamis 30 April 2020.

    Dari berbagai indikator dan perhitungan, ia mengatakan bahwa kajian sejumlah pihak menunjukkan hal signifikan yang memengaruhi kualitas udara Jakarta dan sekitarnya tersebut ialah kendaraan umum dan pribadi selama PSBB.

    "Kendaraan bermotor memang faktor nomor satu. Kemudian berhentinya pabrik sementara bisa berpengaruh juga ke kualitas udara Jakarta," katanya.

    Ia menjelaskan secara umum, sejak awal penerapan bekerja dan berkegiatan dari rumah akibat COVID-19 hingga dua pekan setelahnya, terlihat adanya perbaikan kualitas udara. Begitu pula dengan kondisi pada awal Ramadan 1441 Hijriah.

    Kepanikan masyarakat yang membeli banyak barang (panic buying) saat wabah corona mengakibatkan mobilitas warga kembali tinggi. Hal ini sempat menyebabkan polusi terlihat meningkat di awal PSBB Jakarta. Pengaruh hujan tidak turun dalam beberapa waktu terakhir juga membuat kualitas udara memburuk.

    Hingga memasuki pekan pertama Ramadan, indikator kualitas udara menunjukkan angka yang naik turun di kategori baik yakni 0-50 mikrogram per meter kubik dan sedang pada angka 51-150 mikrogram per meter kubik.

    Selain itu, terkait Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di kawasan Banten atau sisi barat Jakarta yang tetap beroperasi saat ini, BMKG menegaskan hal itu tidak berpengaruh pada kualitas udara.

    Kesimpulan tersebut diperoleh melalui analisa faktor angin. Selain itu, juga dengan melihat perbandingan kualitas udara Jakarta pada April 2019 dan tahun ini di periode yang sama. "PLTU justru tidak pengaruh. Jika dibandingkan tahun lalu yakni April 2019, kualitas udara Jakarta pada April tahun ini justru membaik," kata Kepala Sub Bidang Informasi Pencemaran Udara BMKG itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Mitos Tentang Garam dan Bagaimana Cara Mensiasatinya

    Tidak makan garam bukan berarti tubuh kita tambah sehat. Ada sejumlah makanan dan obat yang kandungan garamnya meningkatkan risiko serangan jantung.