Bos MRT Ungkap Hasil Studi ADB: Harga Properti Kawasan TOD Bakal Naik 30 Persen

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga keluar dari Stasiun MRT Dukuh Atas di kawasan Sudirman, Jakarta, Senin, 20 April 2020. Wali Kota Jakarta Pusat Bayu Meghantara mengatakan bahwa semua aktivitas perkantoran di sepanjang Jalan Thamrin-Sudirman sudah mematuhi aturan PSBB. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Warga keluar dari Stasiun MRT Dukuh Atas di kawasan Sudirman, Jakarta, Senin, 20 April 2020. Wali Kota Jakarta Pusat Bayu Meghantara mengatakan bahwa semua aktivitas perkantoran di sepanjang Jalan Thamrin-Sudirman sudah mematuhi aturan PSBB. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar menyatakan nilai jual properti dalam jangkauan atau catchment area di stasiun MRT naik hingga 30 persen. Dia merujuk pada hasil studi Asian Development Bank (ADB) pada 2019 tentang kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD).

    "Studi menemukan bahwa untuk area-area dalam catchment area (kawasan TOD) ada peningkatan harga 30 persen untuk properti komersial dari harga sebelum adanya transportasi publik massa seperti MRT," kata dia dalam diskusi virtual, Kamis, 15 Oktober 2020.

    Studi itu menganalisis peningkatan nilai lahan atau land value capture di tiga kota, yaitu Jakarta, Bangkok, dan Manila. Hasil studi menunjukkan, harga properti dalam radius 700-800 meter dari stasiun MRT bakal tumbuh 30 persen dan 5 persen untuk residensial atau hunian.

    Sebaliknya, nilai properti di luar jangkauan merosot hingga 15 persen dari harga eksisting. Harga hunian juga turun 8 persen.

    Menurut dia, dari studi itu dapat disimpulkan transportasi publik massal di kota membuat efektivitas pemanfaatan kawasan lebih tinggi. "Ini mengindikasikan bahwa nilai properti dan nilai lahan di kawasan-kawasan yang dilalui MRT meningkat signifikan, baik untuk kebutuhan komersial maupun properti," ujar dia.

    Karena itulah, tambah dia, pemerintah DKI Jakarta mencoba memanfaatkan keuntungan tersebut dengan dengan mengembangkan kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD) di sekitar stasiun MRT. William menjelaskan, konsep TOD bakal mengintegrasikan transportasi publik dengan kegiatan masyarakat, bangunan, dan ruang publik.

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah menerbitkan peraturan gubernur soal panduan rancang kota atau PRK di kawasan TOD Stasiun Lebak Bulus, Fatmawati, dan Blok M-ASEAN. Konsep TOD juga bakal disertakan dalam desain proyek MRT Fase 2 rute Bundaran HI-Ancol.

    William menuturkan, pengembangan TOD di sepanjang jalur stasiun MRT bisa mengurangi kemacetan, mereduksi polusi udara, mendorong warga beralih menggunakan transportasi publik, aktivitas pejalan kaki yang lebih tinggi.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ivermectin: Obat Cacing yang Digadang-gadang Ampuh dalam Terapi Pasien Covid-19

    Menteri BUMN Erick Thohir menilai Ivermectin dapat menjadi obat terapi pasien Covid-19. Kepala BPOM Penny K. Lukito menyebutkan belum ada penelitian.