Anies Baswedan Bantu Perawatan Sastrawan Remy Sylado yang Sakit Stroke

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Remy Sylado. TEMPO/ JACKY RACHMANSYAH

    Remy Sylado. TEMPO/ JACKY RACHMANSYAH

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membantu perawatan sastrawan Remy Sylado yang sakit stroke. Atas bantuan Anies, Remy dibawa ke RSUD Tarakan dengan ambulans milik Pemprov DKI Jakarta.

    Sebelumnya, Anies menjenguk Remy yang dikabarkan sakit di kediamannya di Cipinang Muara, Jakarta Timur, Jumat, 14 Januari 2022. Kedatangan Anies dikonfirmasi oleh jurnalis senior Andreas Harsono melalui cuitan Twitter.

    Sastrawan Remy Sylado sudah stroke tiga kali, biaya buat sewa ambulans tak ada, hanya berobat herbal di rumah Jakarta, hari ini dikunjungi Gubernur @aniesbaswedan di rumahnya Cipinang Muara,” cuit Andreas Harsono pada Jumat malam.

    Yapi Panda Abdiel Tambayong, atau yang lebih dikenal dengan Remy Sylado, adalah sastrawan kelahiran 12 Juli 1945 di Minahasa yang dijuluki sebagai “Ensiklopedia Berjalan untuk Seni dan Humaniora.”

    Ia telah tampil di belasan film selama lima dekade. Salah satu film terkenal Remy Sylado yang digarap dari tulisannya adalah Ca-Bau-Kan (2002), yang diambil dari novel berjudul sama Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa (1999).

    Remy Sylado. Foto:TEMPO/Yosep Arkian

    Menurut anggota Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) DKI Naufal Firman Yursak, Anies Baswedan meminta Remy segera dibawa ke RS Tarakan untuk dirawat. “Alhamdulillah sudah dibawa ke RSUD Tarakan milik Pemprov DKI oleh dinkes atas arahan Pak Gub. Dirawat di kamar VIP,” cuit Naufal, sambil menyertakan foto ambulans Pemprov DKI.

    Baca juga: Gara-gara Tunjangan Anies Baswedan, Ketua DPRD DKI Merasa Seperti Anak Kecil 


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu Satelit Orbit 123 derajat BT dan Kronologi Kekisruhannya?

    Kejaksaan Agung menilai pengelolaan slot satelit orbit 123 derajat BT dilakukan dengan buruk. Sejumlah pejabat di Kemenhan diduga terlibat.