Apa Sebab Jokowi Diserang Demokrat Soal Macet  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah wayang golek tokoh politik dan negarawan, dari kiri: Ir. Soekarno, SBY, Barack Obama, jokowi dan Ahok dipajang di rumah maestro wayang golek Betawi Tizar Purbaya, Jakarta, Jumat (8/3). Kisah wayang golek Betawi tidak hanya menceritakan legenda atau cerita masyarakat Betawi, tapi juga cerita-cerita kontemporer. TEMPO/Yosep Arkian

    Sejumlah wayang golek tokoh politik dan negarawan, dari kiri: Ir. Soekarno, SBY, Barack Obama, jokowi dan Ahok dipajang di rumah maestro wayang golek Betawi Tizar Purbaya, Jakarta, Jumat (8/3). Kisah wayang golek Betawi tidak hanya menceritakan legenda atau cerita masyarakat Betawi, tapi juga cerita-cerita kontemporer. TEMPO/Yosep Arkian

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat politik Indonesia Arbi Sanit menilai "penyerangan" terhadap Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo adalah dendam para elite politik Partai Demokrat terhadap Jokowi karena menolak diajak ikut konvensi bakal calon presiden. Menurut dia, alasannya sederhana, yakni di satu sisi tingkat elektabilitas Jokowi meroket. Sementara itu, tingkat elektabilitas Demokrat turun drastis. "Jelas ini terkait tahun 2014 mendatang," ujar Arbi kepada Tempo, Kamis, 7 November 2013.

    Meski yang diserang Jokowi, menurut Arbi, hal ini bisa menimbulkan permusuhan politik yang sengit antara elite politik Partai Demokrat dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Persaingan antara kedua partai tersebut bisa menjadi semakin panas menjelang 2014. "Karena tidak ada 'senjata', Demokrat serang Jokowi yang punya elektabilitas tinggi dari jabatannya sebagai gubernur," ujarnya.

    Arbi menilai, terkait hal ini Jokowi memiliki titik lemah, yaitu tidak didukung oleh partainya menjadi calon presiden. Menurutnya, Jokowi memang kuat dalam tingkat sokongan rakyat, tapi dirinya diombang-ambingkan oleh partainya. "Dengan kata lain, Jokowi bernasib sial," katanya. (Baca: SBY Lempar Kemacetan ke Gubernur, Ini Kata Jokowi) 

    Jika ketidakpastian ini terus dibiarkan, kata dia, akan terjadi kericuhan politik yang luar biasa. Alasannya, selain celah konflik di antara oposisi yang jelas akan terjadi, di dalam tubuh PDIP sendiri juga akan timbul konflik. "Pengaruh Mega masih sangat kuat," ujar Arbi.

    Beberapa waktu lalu, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menyebut Jokowi harus bertanggung jawab atas kemacetan di Jakarta. "Bicara kemacetan Jakarta ke Jokowi, jangan ke Istana," ujar dia. (Baca:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melempar tanggung jawab kemacetan yang terjadi di Ibu Kota kepada Gubernur Joko Widodo)

    Politikus Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana, juga mengatakan tiap-tiap kepala daerah harus bertanggungjawab atas daerahnya masing-masing. "Termasuk Jokowi atas kemacetan Jakarta," kata Sutan. (baca: Jakarta Macet, Salah Siapa?)

    AMRI MAHBUB



    Berita Lainnya:
    Mengundang Jokowi Harus Bayar?  
    Kebencian Demokrat ke Jokowi Dinilai Menjadi-jadi  
    Kata Hakim Vica soal Isu Selingkuh dan Foto Syur  
    Mengundang Jokowi Harus Bayar? Ini Kronologinya  
    Disindir SBY Soal Kemacetan, Ahok Pilih Merendah  
    Diisukan Menikah Lagi, Ratu Atut: Astagfirullah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.