Pengungsi Banjir Kekurangan Makanan Bayi dan Popok

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang ibu mengendong anaknya yang sedang demam saat banjir melanda pemukiman di kawasan Rawa Buaya, Jakarta Barat, Selasa (31/12). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Seorang ibu mengendong anaknya yang sedang demam saat banjir melanda pemukiman di kawasan Rawa Buaya, Jakarta Barat, Selasa (31/12). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengungsi banjir di Kelurahan Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat mengeluhkan kurangnya  makanan bayi dan popok sekali pakai bagi para balita. "Kalau bantuan makanan dan logistik sudah cukup, tapi untuk kebutuhan balita masih kurang," ujar Neneng (37), warga RT 04 RW 01, Rawa Buaya di posko pengungsi banjir di Pasar Sentra Kaki Lima, Cengkareng, Selasa, 14 Januari 2014.

    Wilayah Rawa Buaya merupakan daerah banjir cukup parah di Jakarta Barat. Dari 12 Rukun Tetangga di RW 01, sebanyak 8 RT terendam banjir, sehingga membuat 900 jiwa mengungsi di tiga lokasi. Hingga hari ini, ketinggian banjir di Rawa Buaya masih mencapai 1 meter, sehingga pengungsi belum bisa kembali ke rumah mereka.

    Di posko Sentra Kaki Lima sendiri, ada hampir 100 orang balita yang ikut mengungsi. Para balita ini pun terpaksa ikut menyantap makanan yang dibagikan untuk semua pengungsi. "Makanan khusus balita kurang banyak, susu bantuan pun bukan susu formula, tapi susu cair kemasan biasa," Neneng menjelaskan. Akibatnya, beberapa balita mulai mengalami sakit. "Sebagian sudah dirawat di puskesmas, karena di pengungsian kalau malam dingin."

    Sejak mengungsi pada Minggu, 2 hari lalu, bantuan terus berdatangan bagi para pengungsi. "Tapi kami baru menerima 2 dus popok instan, dan setiap balita hanya kebagian 5 buah popok," ujar Neneng. Jika mereka masih harus mengungsi hingga dua hari ke depan, karena banjir yang belum surut maka dibutuhkan perlengkapan bayi yang lebih banyak.

    Terkait kondisi kesehatan, sebagian pengungsi mulai menderita penyakit seperti penyakit kulit dan gangguan pernafasan. Bahkan pada Selasa pagi seorang pengungsi berusia 62 tahun meninggal dunia akibat sebelumnya mengidap sakit. Lukman Hakim (29) koordinator posko pengungsi mengatakan, meski tenaga medis di posko rutin mengecek kondisi warga, namun tidak ada ambulans yang siaga di posko.

    "Harusnya ada 1 ambulans yang bersiaga di sini, karena khawatir ada pengungsi yang sakit dan harus dirawat di puskesmas atau rumah sakit," kata Lukman.

    PRAGA UTAMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.