Banjir Jakarta, Hampir 63 Ribu Warga Mengungsi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak digendong oleh bakapknya saat akan mengungsi di kawasan Kampung Pulo, Jakarta, (17/1). Ratusan warga mulai mengungsi karena akan adanya banjir kiriman yang telah ditetapkan ketinggian di Pintu air Katulampa. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Seorang anak digendong oleh bakapknya saat akan mengungsi di kawasan Kampung Pulo, Jakarta, (17/1). Ratusan warga mulai mengungsi karena akan adanya banjir kiriman yang telah ditetapkan ketinggian di Pintu air Katulampa. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Memasuki pekan kedua banjir yang melanda wilayah Jakarta, terhitung sebanyak 62.819 jiwa terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, melalui rilis yang dikirimkan Selasa pagi, 21 Januari 2014, mengatakan, meski debit air pada sejumlah sungai mulai turun, beberapa wilayah di Jakarta masih tergenang banjir. "Hingga hari ini masih ada 34 kecamatan di Jakarta yang tergenang banjir," katanya.

    Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta sejak Senin, 14 Januari 2013 pekan lalu hingga hari ini, banjir Jakarta telah menggenangi wilayah di 100 kelurahan, dengan korban sebanyak 134 ribu jiwa dari sekitar 38 ribu kepala keluarga. Dari jumlah korban itu, warga yang harus mengungsi hampir mencapai 63 ribu jiwa. "Semua pengungsi menempati posko yang tersebar di 253 titik," kata Sutopo.

    Para pengungsi pun masih mengalami kekurangan bantuan logistik, seperti mobil toilet, terutama untuk daerah yang sulit terjangkau, seperti di Cakung Timur, Jakarta Timur. "Kebutuhan lain seperti selimut, makanan siap saji, air mineral, dan air bersih juga masih kurang," dia menjelaskan. Adapun banjir tahun ini telah menelan 12 korban jiwa, baik disebabkan langsung oleh banjir maupun tidak.

    Berikut ini data terakhir banjir Jakarta hingga hari ini versi BPBD.

    1. Jakarta Timur
    Tinggi muka air mencapai 20-350 sentimeter. Jumlah wilayah terdampak sebanyak sembilan kecamatan, 32 kelurahan. Jumlah warga yang terdampak mencapai 65.090 jiwa. Jumlah pengungsi sebanyak 22.405 jiwa di 101 titik pengungsian. Korban jiwa sebanyak tujuh orang.

    2. Jakarta Selatan
    Tinggi muka air mencapai 50-300 cm. Jumlah wilayah terdampak sebanyak delapan kecamatan, 16 kelurahan. Jumlah warga yang terdampak mencapai 29.969 jiwa. Jumlah pengungsi sebanyak 16.345 jiwa di 44 titik pengungsian. Korban jiwa sebanyak satu orang.

    3. Jakarta Pusat
    Tinggi muka air mencapai 50-150 cm. Jumlah wilayah terdampak sebanyak dua kecamatan, sembilan kelurahan. Jumlah warga yang terdampak mencapai 10.392 jiwa. Jumlah pengungsi sebanyak 3.426 jiwa di 17 titik pengungsian. Tidak ada korban jiwa.

    4. Jakarta Barat
    Tinggi muka air mencapai 50-150 cm. Jumlah wilayah terdampak sebanyak sembilan kecamatan, 19 kelurahan. Jumlah warga yang terdampak mencapai 24.933 jiwa. Jumlah pengungsi sebanyak 14.521 jiwa di 52 titik pengungsian. Korban jiwa sebanyak satu orang.

    5. Jakarta Utara
    Tinggi muka air mencapai 20-130 cm. Jumlah wilayah terdampak sebanyak enam kecamatan, 24 kelurahan. Jumlah warga yang terdampak mencapai 4.278 jiwa. Jumlah pengungsi sebanyak 6.113 jiwa di 39 titik pengungsian. Korban jiwa sebanyak tiga orang.

    Sutopo menuturkan, dibandingkan banjir besar pada Januari 2013 silam, banjir Jakarta pada awal 2014 ini masih lebih kecil dampaknya. "Waktu banjir besar tahun lalu, jumlah pengungsi mencapai 83.930 jiwa yang disebar di 307 titik."

    PRAGA UTAMA

    Berita terpopuler
     SBY Sakit Hati Tak Jadi Wapres Mega
    Curhat SBY Soal Hubungannya dengan Mega 
    7 Ekspresi Sewot Ani SBY di Instagram 
    Istilah Akil Soal Suap: Emas 3 Ton dan Uang Kecil
    Akil Dituding Bermain di Sengketa Pilkada Bali 
    Nilai Aset Akil yang Disita Capai Rp 200 Miliar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.