Bangunan Basement Perparah Banjir Jakarta  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana lansekap tata ruang kota Jakarta dengan komposisi rumah hunian dan gedung-gedung perkantoran menjelang matahari terbenam, Jakarta, (9/1). DPRD DKI Jakarta menyatakan masih terdapat beberapa kritis Ibu Kota yang perlu diselesaikan di Tahun 2014 diantaranya kemacetan, banjir, dan tata kota. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf

    Suasana lansekap tata ruang kota Jakarta dengan komposisi rumah hunian dan gedung-gedung perkantoran menjelang matahari terbenam, Jakarta, (9/1). DPRD DKI Jakarta menyatakan masih terdapat beberapa kritis Ibu Kota yang perlu diselesaikan di Tahun 2014 diantaranya kemacetan, banjir, dan tata kota. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Makin padatnya bangunan dan gedung bertingkat memperparah banjir di Jakarta. Tidak hanya itu, keberadaan gedung pencakar langit itu juga mengancam pasokan air bersih bawah tanah Ibu Kota.

    Menurut Kepala Balai Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Arie Herlambang, aliran air tanah di Jakarta Pusat dan Utara banyak yang terhadang karena ada pengerasan fondasi-fondasi gedung. Hadangan yang mencapai kedalaman 60 meter di bawah tanah itu memicu kekeringan warga sekitar.

    Ia berharap pemerintah bisa segera menertibkannya. “Tanpa ada upaya khusus, saya khawatir warga Jakarta bukan cuma terus kebanjiran. tapi juga akan kekurangan air bersih pada 2025,” katanya.

    Kondisi makin parah karena saat ini banyak pembangunan gedung bertingkat yang memiliki ruang bawah tanah (basement) hingga beberapa tingkat. Menurut Bambang Eryudhawan, anggota tim penasihat arsitektur kota DKI Jakarta, pembangunan basement merupakan tuntutan pemilik gedung untuk menyediakan ruang parkir sebanyak-banyaknya, agar kendaraan pengunjung gedung tak diparkir di tepi jalan.  “Bahkan ada beberapa gedung yang minta izin membangun basement hingga enam dan tujuh lantai,” kata Bambang. “Padahal pembangunan ke bawah seperti itu menekan aliran air tanah.”

    Persoalan masih ditambah dengan tidak diperhatikannya karakter tanah ketika pengembang hendak membangun gedung bertingkat. Menurut Kepala Laboratorium Geoteknik Universitas Tarumanagara, Jakarta, Chaidir Anwar Makarim, ada beberapa daerah di Jakarta yang memiliki tanah berpori alias tidak padat, yang disebut buried valley. Contohnya di sekitar Jalan Thamrin.

    Menurut Chaidir yang juga ahli geoforensik, turunnya gedung Sarinah merupakan salah satu buktinya. Juga ketika beberapa gedung di kawasan itu membangun fondasi--dengan cara menyedot air tanah--gedung lain di sekitarnya terkena dampak. “Ketika dibangun, gedung Kementerian Agama, tempat parkir di kantor BPPT, dan Gedung Jaya longsor,” kata Chaidir. “Ketika Bank Indonesia membangun gedung baru, kaca-kaca di Wisma Antara pecah.” (Baca selengkapnya di Majalah Tempo).

    TIM TEMPO


    Berita Populer
    Klaim Ical Soal Pak Harto dan Golkar Berlebihan 
    Di Survei Ini, Prabowo Subianto Selalu Jadi Juara 
    Survei: PDIP Tak Usung Jokowi, Prabowo Menang 
    Irfan Bachdim Resmi Gabung Klub Jepang 
    Gempa Kebumen Akibat Dua Lempeng Bertemu
    Survei: Jokowi Bertahan, Prabowo-Aburizal Jeblok
    Gempa Kebumen, Aktivitas Gunung Api Masih Normal 
    Survei: Publik Inginkan Koruptor Dihukum Mati  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.