Beda Jokowi dengan Ahok dan Teori Kodok

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jokowi-Ahok. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Jokowi-Ahok. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menilai Gubernur Joko Widodo alias Jokowi menerapkan teori membunuh kodok selama memimpin Jakarta. Menurut Ahok, teori itu terutama dipakai dalam penggantian pejabat di DKI. (Baca: Ahok Sebut Jokowi Lambat Ambil Keputusan)

    "Gue ingin ganti orang buru-buru, dia tahan," kata Ahok dalam wawancara khusus dengan Tempo, Kamis, 21 Agustus 2014. (Baca wawancara lengkap dengan Ahok, 'Gue Jadi Gubernur, Bos')

    Jokowi, kata Ahok, dalam mengganti pejabat di DKI, ibarat melemparkan kodok ke wadah berisi air dingin di atas kompor. Kodok itu, Ahok melanjutkan, berenang dan tidak melompat keluar. Lalu, kompor dipanaskan pelan-pelan. "Sampai mati, kodok itu tidak akan loncat karena tidak merasa dibunuh," kata Ahok.

    Dia mengaku punya cara yang berbeda dengan Jokowi. "Kalau gue, enggak usah lempar kodoknya. Langsung gue tembak saja. Selesai."

    ADVERTISEMENT

    Ahok menilai Jokowi kerap lambat mengambil keputusan. Kelambatan itu diakui Ahok merupakan salah satu hal yang tak disukainya dari Jokowi. Tapi dia menilai Jokowi selalu punya pertimbangan dan berhitung sebelum mengambil keputusan.

    Ahok hampir dua tahun memimpin Jakarta bersama Jokowi. Dalam waktu dekat, Ahok bakal menggantikan Jokowi yang terpilih sebagai presiden.

    Terpopuler
    Hari Ini, Tim Advokasi Prabowo Lapor ke Komnas HAM
    Polisi Panggil Pengurus Gerindra Soal Garuda Merah
    ISIS Rebut Pangkalan Militer Suriah
    Ini Saran Komnas HAM kepada Tim Advokasi Prabowo
    Masuk Bursa Wali Kota Depok, Tifatul Direspons Negatif


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Potongan Janggal Hukuman Djoko Tjandra, Komisi Yudisial akan Ikut Turun Tangan

    Pengadilan Tinggi DKI Jakarta mengabulkan banding terdakwa Djoko Tjandra atas kasus suap status red notice. Sejumlah kontroversi mewarnai putusan itu.