Valentine Tak Harus 14 Februari, Bisa Kapan Saja  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Remaja muslim membawa spanduk saat melakukan aksi simpatik menolak valentine  di hari bebas kendaraan bermotor (HBKB), Bundaran HI, Jakarta, 8 Februari 2015. Dalam aksinya mereka mengajak para remaja muslim untuk tidak merayakan valentine (kasih sayang)  yang merupakan bagian dari budaya barat. TEMPO/Dasril Roszandi

    Remaja muslim membawa spanduk saat melakukan aksi simpatik menolak valentine di hari bebas kendaraan bermotor (HBKB), Bundaran HI, Jakarta, 8 Februari 2015. Dalam aksinya mereka mengajak para remaja muslim untuk tidak merayakan valentine (kasih sayang) yang merupakan bagian dari budaya barat. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Majelis Ulama Indonesia mengharamkan umat muslim merayakan Valentine yang jatuh tiap 14 Februari. Ketua MUI Bidang Pemberdayaan Perempuan Keluarga dan Perlindungan Anak Tutty Alawiyah mengatakan peringatan Hari Kasih Sayang itu tak sesuai dengan budaya Indonesia.

    "Itu budaya Barat yang tak sesuai dengan masyarakat Indonesia yang mayoritas umat Islam," katanya saat dihubungi, Kamis, 11 Februari 2015.

    Untuk mengungkapkan kasih sayang, kata Tutty, umat Islam tak perlu menunggu Hari Valentine tiba. Menurut dia, perasaan itu bisa ditunjukan kapan saja, terlebih dalam hubungan keluarga. "Jadi kenapa harus menunggu satu tahun sekali," ujarnya.

    Tutty menilai perayaan Valentine di Indonesia cenderung mengarah ke hal negatif. Cokelat yang identik dengan hari perayaan kasih sayang ini malah banyak dijual di supermarket dan minimarket dengan selipan kondom. Dia khawatir ini akan mendorong remaja melakukan hubungan seks di luar nikah. "Jangan sampai mereka rusak karena hal ini," katanya.

    Tradisi bertukar kado pun, menurut dia, bisa menjerumus ke perilaku negatif. Tutty mengatakan memberikan kado di hari itu biasanya memiliki tujuan tertentu. "Misalnya ciuman, dan hal-hal yang melewati batas lainnya."

    NUR ALFIYAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.