Pilkada Kota Bekasi, Rahmat Effendi 47,3 Mochtar Mohamad 4,7

Reporter:
Editor:

Ali Anwar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gerakan Pemuda Anti Korupsi, membakar poster bergambar Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad 'Sang Koruptor'. Mereka mendesak aparat hukum menangkap Mochtar, karena diduga terlibat dalam sejumlah kasus korupsi di Kota Bekasi, seperti alokasi dana Kelautan dan Perikanan senilai Rp 2 miliar. TEMPO/Hamluddin

    Gerakan Pemuda Anti Korupsi, membakar poster bergambar Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad 'Sang Koruptor'. Mereka mendesak aparat hukum menangkap Mochtar, karena diduga terlibat dalam sejumlah kasus korupsi di Kota Bekasi, seperti alokasi dana Kelautan dan Perikanan senilai Rp 2 miliar. TEMPO/Hamluddin

    TEMPO.CO, Jakarta - Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mempunyai tingkat elektabilitas di atas angin menjelang pilkada Kota Bekasi 2018. Inkumben itu mengalahkan pesaing-pesaingnya. Terbaru, lembaga survei Media Survei Nasional (Median) mencatat bahwa tingkat elektabilitas Rahmat Effendi 47,3 persen. Sedangkan bekas Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad di urutan kedua dengan 4,7 persen.

    Bakal calon lainnya adalah KH Amin Noer 2,0 persen, Solihin 1,7 persen, Anggawira 1,3 persen, KH Abdullah Makky 1,3 persen, Siti Aisyah 1,3 persen, Amien Mahmuddin 0,7 persen, Heikal 0,7 persen, Lucky Hakim 0,7 persen, dan Sutriyono 0,7 persen.

    Direktur Eksekutif Median Rico Marbun mengatakan salah satu yang membuat elektabilitas Rahmat Effendi unggul karena masyarakat Kota Bekasi puas dengan kinerjanya. "Tingkat kepuasan itu mencapai 61,3 persen," kata Rico. "Rinciannya sangat puas 12 persen, dan merasa puas 49,33 persen."

    Menurut Rico, survei menjelang pilkada Kota Bekasi dilakukan pada 11-18 November 2017. Sampel 1.000 responden, yang dipilih secara random melalui teknik multistage random sampling, dengan margin of error 3 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen.

    Mochtar Mohamad dipenjara enam tahun dan denda Rp 300 juta serta pidana tambahan uang pengganti Rp 639 juta sejak 2012, setelah ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mochtar dijerat kasus korupsi suap anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bekasi sebesar Rp 1,6 miliar, serta penyalahgunaan anggaran makan-minum Rp 639 juta pada 2010.

    Mochtar juga dinyatakan terbukti memberikan suap Rp 500 juta untuk mendapatkan Piala Adipura 2010 serta menyuap pegawai Badan Pemeriksa Keuangan senilai Rp 400 juta agar mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian.

    Suap anggota DPRD Bekasi sebesar Rp 1,6 miliar dan menyalahgunakan anggaran makan-minum sebesar Rp 639 juta untuk memuluskan pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Bekasi Tahun 2010.

    Ketua Badan Pemenangan Pemilihan Umum Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Bekasi Nicodemus Godjang mengatakan partainya sudah bulat menetapkan mantan Wali Kota Bekasi periode 2008-2012, Mochtar Mohamad, menjadi calon tunggal Wali Kota Bekasi.

    "Hasil survei internal, elektabilitas Mochtar Mohamad terus naik, di bawah sedikit petahana," kata Nico. Ia menanggapi santai ihwal survei dari Median yang menempatkan posisi inkumben di atas angin dibanding Mochtar Mohamad menjelang pilkada Kota Bekasi 2018. "Survei banyak versi, dan fluktuatif," ucapnya.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H