Polisi Pastikan Fiktif Pengirim Surat Kaleng Teror Ulama Depok

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi tumpukan surat. shutterstock.com

    Ilustrasi tumpukan surat. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Depok – Polres Kota Depok memastikan nama pengirim surat kaleng yang ditujukan kepada 10 ulama di Depok, Jawa Barat, adalah fiktif.

    “Alamat benar ada, tapi identitas diduga fiktif atau palsu,” kata Kepala Satuan Reskrim Polresta Depok Komisaris Putu Kholis Aryana kepada Tempo pada Senin, 5 Maret 2018.

    Dua pucuk surat di dalam map coklat ditemukan di depan Pos Satpam Cluster Gardenia, Perumahan Grand Depok City, pada Sabtu, 3 Maret 2018. Pada surat itu tertera alamat pengirim yakni Keadilan Jaya Abadi, Jalan Malaka Hijau, Pondok Kopi, Jakarta Timur. Surat itu berisi ancaman pembunuhan terhadap sepuluh orang yang diketahui sebagai tokoh agama di Gardenia dan Depok.

    BacaSurat Kaleng Teror Ulama Depok: Ini Dugaan Motif Pelaku 

    Kejadian bermula pada saat penjaga keamanan Cluster Gardenia di GDC bernama  Asep mendapati dua amplop di pos keamanan. “Di surat itu alamat pengirimnya dari Keadilan Jaya Abadi, Jalan Malaka Hijau, Pondok Kopi, Jakarta Timur, dan ditujukan kepada ustad Shobur,” kata Syarif, kakak Asep, yang juga satpam Gardenia.

    Karena surat tersebut ditujukan untuk Shobur, penghuni Gardenia, Asep langsung memberikannya kepada yang bersangkutan. "Dia juga nggak tahu isi suratnya apa, soalnya diplastikin dan dimasukin map, nggak berani kita buka,” ujar Syarif.

    Berikut 10 nama ulama tersebut :
    1. KH. Qurtubi Nafis
    2. KH. Abu Bakar Madris
    3. Ust. Iwan Gardenia
    4. Ust. Shobur Gardenia
    5. Ust. Solihin Gardenia
    6. Abi Zain bin Qasim Gardenia 
    7. KH. Riyono GG Kocen
    8. Ust. M. Syarif Hidayatulloh
    9. KH. Ahmad Zaelani
    10. Ust. Marzan

    Menurut Putu, penyidik terus mencari pelaku penyebaran surat kaleng berisi ancaman kepada sejumlah ulama itu. “Masih kita dalami terus, termasuk pemeriksaan saksi-saksi."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.