Hari Kebangkitan Nasional, Sandiaga Uno Angkat Soal Sapu Lidi

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Paskibraka DKI Jakarta mengibarkan bendera Merah Putih saat upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-109 Tahun yang dipimpin oleh Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat di Monas, Jakarta, 20 Mei 2017. ANTARA FOTO

    Paskibraka DKI Jakarta mengibarkan bendera Merah Putih saat upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-109 Tahun yang dipimpin oleh Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat di Monas, Jakarta, 20 Mei 2017. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyinggung soal persatuan dan kesatuan bangsa saat menjadi inspektur upacara Hari Kebangkitan Nasional di lapangan IRTI Monas hari ini. Sandiaga menyitir pernyataan proklamator Republik Indonesia, Sukarno, yang menyebut persatuan bangsa ibarat sapu lidi.

    "Jika tidak diikat, lidi tersebut akan mudah dipatahkan. Tapi jikalau lidi-lidi itu digabungkan, diikat menjadi sapu, mana ada manusia bisa mematahkan sapu lidi yang sudah terikat?" kata Sandiaga membacakan sambutan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara di Monas, Jakarta Pusat, Senin, 21 Mei 2018.

    Hari Kebangkitan Nasional mencapai peringatan yang ke-110 tahun ini. Peringatan ini menandai persatuan dan kesatuan bangsa yang diawali dengan berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.

    Sandiaga mengatakan perumpamaan lidi yang disebut Bung Karno relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Kata dia, bangsa Indonesia tengah mengalami adanya kekuatan-kekuatan yang berusaha merenggangkan ikatan "sapu lidi" persatuan bangsa.

    "Kita disuguhi hasutan-hasutan yang membuat kita bertikai dan tanpa sadar mengiris ikatan yang sudah puluhan tahun menyatukan segala perbedaan tersebut," kata Sandiaga membacakan sambutan.

    Padahal, kata dia, momentum sekarang ini seharusnya digunakan sebaik-baiknya untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dari bangsa lain. Sandiaga mengatakan bangsa Indonesia tak seharusnya lagi buang-buang waktu dan energi untuk bertikai, tapi fokus pada pendidikan dan pengembangan manusia Indonesia.

    Apalagi, menurut perhitungan ahli, ujar Sandiaga, Indonesia akan memasuki era bonus demografi. Era ini diprediksi bakal menyuguhkan potensi keuntungan karena proporsi penduduk usia produktif lebih tinggi dibanding nonproduktif. Badan Pusat Statistik memperkirakan pada rentang 2028-2031 angka ketergantungan penduduk diperkirakan mencapai titik terendah, yaitu 46,9 persen.

    Pada momentum Hari Kebangkitan Nasional ini, Sandiaga Uno berharap era bonus demografi itu dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. "Proyeksi keuntungan bonus demografi itu akan tinggal menjadi proyeksi jika kita tak dapat memaksimalkannya," kata Sandiaga.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.