Tawuran di Kebayoran, Sekolah Ancam Keluarkan Siswa yang Terlibat

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AH, siswa SMA Muhammadiyah 15, menjadi korban di tawuran pada Sabtu, 1 September 2018. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    AH, siswa SMA Muhammadiyah 15, menjadi korban di tawuran pada Sabtu, 1 September 2018. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala SMA Muhammadiyah 15 Asrunas Imran, Slipi, mengatakan tidak segan mengeluarkan siswanya dari sekolah, jika terbukti terlibat tawuran.

    Imbauan itu dia sampaikan usai salah seorang siswanya, AH, 16 tahun, menjadi korban jiwa dalam insiden tawuran di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan pada Sabtu dini hari lalu. "Tahun lalu ada enam yang saya keluarkan karena terlibat tawuran," ujar Imran di kantornya, Selasa, 4 September 2018.

    Baca :  SMA Muhammadiyah Bantah Muridnya Terlibat Tawuran Berdarah di Kebayoran

    Tindakan tegas Imran tersebut merupakan salah satu cara menekan tawuran di sekolah tersebut. Ia menekankan tidak ada toleransi hukuman terhadap pelaku tawuran antar siswa sekolah.

    Seperti diketahui, AH meninggal dengan cara mengenaskan di tangan segerombolan remaja pada Sabtu dini hari. Siswa kelas X di SMA Muhammadiyah 15 itu tewas karena sabetan senjata tajam dan siraman air keras.

    Imran membantah keempat muridnya itu terlibat dalam tawuran tersebut. Ia menerangkan pada Jumat, 31 Agustus 2018, AH bersama ketiga orang temannya sedang nongkrong di kawasan Bulungan Jakarta Selatan. Sekitar pukul 03.00, saat akan pulang, AH dicegat oleh sekelompok remaja.

    Ketiga orang teman AH berhasil melarikan diri, sedangkan korban yang terjatuh dari motor langsung menjadi bulan-bulanan kelompok itu. "Jadi lebih seperti dibegal, dibanding tawuran," ujar dia.

    Imran mengatakan sudah menanyai ketiga teman AH tersebut. Berdasarkan keterangan itu, Imran berkesimpulan AH dan ketiganya tidak terlibat dalam tawuran, sehingga tak ada sanksi apapun kepada mereka.

    Simak juga :

    Alasan Transjakarta Maklumi Usulan Soal Ganjil Genap Ditolak Gubernur Anies

    Imran hanya mengimbau kepada ketiga orang itu untuk tidak keluar pada dini hari lagi. Ia juga menyayangkan peran orangtua yang tidak memberikan pengawasan penuh terhadap anaknya, sehingga mereka masih berkeluyuran pada dini hari.

    Dia juga mengatakan sekolah telah menyediakan berbagai macam ekstrakurikuler agar para murid bisa mengisi waktunya di kegiatan positif ketimbang tawuran. "Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi," ujar Imran.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.