Senin, 15 Oktober 2018

Sejarawan Peter Kasenda Akan Dimakamkan di TPU Pondok Rangon

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peter Kasenda. alumnisejarahui.id

    Peter Kasenda. alumnisejarahui.id

    TEMPO.CO, Bekasi - Sejarawan yang juga Tim Ahli Badan Pembidaan Ideologi Pancasila (BPIP), Peter Kasenda, meninggal dunia di rumahnya Pondok Gede, Kota Bekasi karena sakit.

    Jenazah Peter Kasenda akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Rangon, Jakarta Timur pada besok Rabu siang, 12 September 2018.

    Baca : Peter Kasenda Meninggal, Benny Susetyo: Dia Mau Bikin Buku Sejarah

    Saat ini jenazah Peter Kasenda disemayamkan di rumah duka Rumah Sakit Elisabeth, Rawalumbu Kota Bekasi. Jenazah tiba di rumah duka pada Senin menjelang tengah malam usai diotopsi di RS Polri, Kramajati, Jakarta Timur.

    "Dimakamkan besok siang pukul 12.00 di TPU Pondok Rangon," kata Ketua Lingkungan Gereja Tempat Peter Ibadah, Marianty di Rumah Duka RS Elisabeth, Bekasi, Selasa, 11 September 2018.

    Marianty mengatakan, sebelumnya ada dua opsi tempat pemakaman untuk jenazah Peter. Pertama di Padurenan, Mustikajaya, Kota Bekasi, dan kedua di Pondok Rangon, Jakarta Timur. Namun, setelah berdiskusi, pihak keluarga memutuskan untuk dimakamkan di TPU Pondok Ranggon. "Pak Peter ini dua bersaudara, adiknya masih syok," ujar dia.

    Simak juga : Maju Cawagub DKI, Muhammad Taufik: Tak Ganggu di Koalisi Pilpres 2019

    Peter Kasenda ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Perumahan Sarigaferi, Kelurahan Jatibening Baru, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi pada Senin pagi, 10 September 2018. Diduga, Peter telah meninggal dunia tiga hari sebelumnya karena jenazahnya sudah membusuk.

    Polisi yang mengidentifikasi tak menemukan bekas-bekas tanda penganiayaan di tubuh Peter Kasenda. Karena itu, penulis buku tentang Bung Karno tersebut diduga meninggal dunia karena sakit.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Citra serta Jurus Kampanye Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno

    Berlaga sebagai orang kedua, Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno melancarkan berbagai jurus kampanye, memerak citra mereka, dan menyambangi banyak kalangan.