Penjelasan MRT Sempat Tutup Dua Pintu Masuk Stasiun Istora

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa peserta kampanye akbar Prabowo-Sandi juga memadati Stasiun MRT Istora Mandiri, Minggu 7 April 2019. Tempo/Imam Hamdi

    Massa peserta kampanye akbar Prabowo-Sandi juga memadati Stasiun MRT Istora Mandiri, Minggu 7 April 2019. Tempo/Imam Hamdi

    TEMPO.CO, Jakarta - Corporate Secretary PT Mass Rapid Transit Jakarta Muhamad Kamaluddin membenarkan adanya penutupan dua pintu masuk di stasiun MRT Istora Mandiri pada Ahad, 7 April 2019.

    Penutupan dilakukan saat kampanye akbar pasangan capres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di kawasan Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat selesai dan massa memenuhi stasiun. "Tadi karena di area concourse persis di ujung tangga tersebut terlalu padat calon penumpang yang tiba-tiba banyak membeli tiket. Kami cairkan dulu kepadatannya," kata Kamaluddin melalui pesan singkat.

    Baca: PT MRT Bakal Beri Sanksi Mitra Usaha yang Jual Mi Langsung Seduh

    Meski dua pintu ditutup, kata Kamaluddin, penumpang bisa naik melalui dua pintu lainnya di sisi utara. Menurut dia, penutupan pintu dilakukan untuk menjaga keselamatan dan keamanan penumpang. "Dua pintu lainnya masih dibuka," kata dia.

    Pantauan Tempo pintu masuk Stasiun Istora telah ditutup sejak pukul 09.30 dan dibuka kembali sekitar pukul 11.30. Petugas yang ditemui di stasiun Istora mengatakan telah memprediksi adanya lonjakan penumpang hari ini.

    Alasannya, kata Kamaluddin, ada kampanye terbuka pasangan calon presiden Prabowo-Sandi di Stadion GBK. "Petugas HO (head office) juga banyak dikerahkan untuk membantu di sini," kata dia.

    Baca: PT MRT Beberkan Penyebab Kartu Bank Sulit Terbaca Mesin Tiket

    Seorang penumpang, Edi Waredi, 38 tahun, mengatakan sudah hampir satu jam keluarganya mengantri tiket. "Tapi antrian tetap masih panjang," ujarnya saat ditemui di dalam stasiun Istora.

    Edi mengeluhkan pelayanan petugas di dalam stasiun yang terus mengusirnya karena duduk di lantai. Edi mengatakan duduk karena pegal menggendong anak. "Setiap duduk disuruh diri. Padahal, banyak yang lain duduk di lantai juga," ujar warga Lenteng Agung itu.

    Menurut Edi, semestinya petugas pelayanan melihat kondisi stasiun MRT yang cukup ramai seperti ini. Jadi, kata dia, jika tidak boleh duduk di lantai, maka seharusnya penumpang yang membawa anak diarahkan ke tempat duduk. "Ini tidak diarahkan kami untuk cari tempat duduk," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    WhatsApp Pay akan Meluncurkan E - Payment, Susul GoPay dan Ovo

    WhatsApp akan meluncurkan e-payment akhir tahun 2019 di India. Berikutnya, WhatsApp Pay akan melebarkan layanannya ke Indonesia.