Kereta Odong-odong Jalan Terus di Kemayoran Diadukan ke Ombudsman

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kereta jurusan Purwakarta ke Jakarta bersiap diberangkatkan di depan gerbong-gerbong Kereta Rel Listrik  yang disimpan di kawasan Stasiun Purwakarta, Jabar, Selasa(21 Juli). Tumpukan rongsokan gerbong kereta ini menjadi pemandangan yang menarik bagi penumpang kereta yang melewati Purwakarta. Tempo/Rully Kesuma

    Kereta jurusan Purwakarta ke Jakarta bersiap diberangkatkan di depan gerbong-gerbong Kereta Rel Listrik yang disimpan di kawasan Stasiun Purwakarta, Jabar, Selasa(21 Juli). Tumpukan rongsokan gerbong kereta ini menjadi pemandangan yang menarik bagi penumpang kereta yang melewati Purwakarta. Tempo/Rully Kesuma

    TEMPO.CO, Jakarta -Sebagian warga komuter asal Cikampek dan Purwakarta mengadu ke Kantor Ombudsman, hari ini, Kamis 4 Juli 2019. Mereka mengeluhkan kebijakan PT KAI yang membuat dua 'kuda besi' tunggangan mereka sehari-hari tak lagi berhenti di Stasiun Kemayoran, Jakarta Pusat.

    Baca juga: Ombudsman Beberkan Rekaman CCTV 'Kebebasan' Idrus Marham

    Kedua rangkaian kereta yang dimaksud adalah KA Jatiluhur relasi Tanjung Priok-Purwakarta dan KA Walahar relasi Tanjung Priok-Cikampek. Rangkaian  KA lokal bermesin diesel dan lebih akrab disapa kereta odang-odong itu tak lagi berhenti di Stasiun Kemayoran sejak awal Juni lalu.

    Surahman, wakil dari kelompok pengguna jasa KA Jatiluhur dan Walahar, mengatakan bersama dengan 20 orang lainnya telah mengadukan PT KAI atas kebijakan perubahan rute perhentian itu. Menurutnya, kebijakan tak berhenti di Stasiun Kemayoran merugikan banyak penumpang di luar kelompok 20 orang tersebut. 

    "Yang kami laporkan adalah kebijakan PT KAI menghentikan akses naik turun penumpang di Stasiun Kemayoran," ujarnya di Kantor Ombudsman, Kamis 4 Juli 2019.

    Baca juga: DKI Lanjut Gunakan Kuasa Hukum Capres 02, Anies: Saya Tidak Tahu

    Surahman menyebut kerugian yang di alami pengguna jasa KA Walahar dan Jatiluhur berupa materil dan imateril. Materil karena mereka mengalami pembengkakan ongkos transportasi. Imateril karena rugi segi waktu.

    Tanpa berhenti di Kemayoran, kedua kereta kini hanya bisa diakses dari Stasiun Tanjung Priok di ibu kota. Dua perhentian lainnya adalah Tambun dan Cikarang. 

    "Beberapa teman yang tidak dekat dengan Tanjung Priok jadinya harus nambah ongkos, dan kalaupun tidak terjangkau otomatis mereka harus menggunakan transportasi lain dan itu lebih mahal dan nambah waktu juga," kata Surahman panjang lebar.

    Baca juga: Bongkar Dugaan Pungli di Sekolah, Guru Honorer Dipecat di Tangsel

    Sebelumnya, PT KAI menutup rute pemberhentian KA lokal di Stasiun Kemayoran untuk alasan keamanan. Saat itu bertepatan pula dengan musim mudik Lebaran.

    Dalam keterangan tertulisnya pada Juni, Senior Manager Humas Daop I KAI Jakarta Eva Chairunisa, menyatakan PT KAI mengedepankan keselamatan naik-turun penumpang di Stasiun Kemayoran. Adapun penumpang KA Walahar dan KA Jatiluhur selama ini acap menunggu kereta langsung di pinggir rel tanpa peron. 

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mengering di Sana-sini

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini bahaya kekeringan untuk wilayah Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta.