Selasa, 24 September 2019

Ridwan Saidi Kritik Pemindahan Ibu Kota: Gagasan Jungkir Balik

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Budayawan Betawi Ridwan Saidi saat melakukan Orasi Budaya di areal Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Selatan, 22 Mei 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Budayawan Betawi Ridwan Saidi saat melakukan Orasi Budaya di areal Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Selatan, 22 Mei 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta -Budayawan Betawi Ridwan Saidi pesimistis dengan rencana Presiden Joko Widodo atau Jokowi, dalam pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur.

    "Pemindahan tidak masuk diakal. Duit tidak ada (ibu kota) mau dipindahkan," kata Ridwan saat dihubungi, Rabu, 21 Agustus 2019.

    Ridwan mengatakan pemerintah boleh saja mempunyai rencana memindahkan ibu kota ke wilayah manapun. Namun, ia ragu langkah tersebut tidak akan terealisasi karena tidak didukung rakyat. "Kalau gagasan yang jumpalitan biasanya kagak bakal jalan."

    Menurut Ridwan, rencana pemindahan ibu kota telah ada sejak lama. Namun, hingga sekarang rencana itu belum terealisasi. "Tidak mudah. Dan tidak akan pindah-pindah saya rasa. Saya sih silahkan saja mau pindah ke mana," ujar mantan anggota DPR RI itu.

    Peneliti budaya Betawi, Yahya Andi Saputra, mendukung rencana pemindahan ibu kota negara dari Jakarta. "Itu program pemerintah. Dari dulu sudah ada wacananya. Silahkan kalau mau pindah ke mana saja," kata Yahya saat dihubungi, Senin, 19 Agustus 2019.

    Rencana pemindahan ibu kota negara telah diutarakan langsung Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Ibu kota negara rencananya bakal dipindahkan ke Pulau Kalimantan.

    Namun, kata Yahya, nilai Jakarta sebagai ibu kota negara tidak akan bisa pudar. Sebab, Jakarta mempunyai sejarah panjang dalam proses berdirinya negara ini. "Jakarta berasal dari pergumulan sejarah yang kental. Republik ini berproses dari Jakarta."

    Ia menuturkan Jakarta saat itu dianggap tepat menjadi ibu kota negara karena munculnya berbagai pergerakan nasional di kota ini. Selain itu, Jakarta dianggap sebagai miniatur Indonesia.

    Bahkan, jika tidak ada pergerakan di Jakarta, maka negara ini belum merdeka. "Peran Jakarta tidak bisa lepas dari sejarah berdirinya negara ini," kata Yahya lagi.

    Lebih jauh ia menuturkan pemerintah mesti mempertimbangkan dengan matang lokasi yang bakal dipilih menjadi ibu kota. Sebab, pemindahan ibu kota ada dampak positif dan negatifnya.

    Salah satu dampak negatifnya, kata dia, penduduk asli ibu kota negara bisa tersingkir seperti masyarakat Betawi di Jakarta. Pemerintah mesti memberikan pijakan yang kuat agar putra daerah wilayah yang akan dijadikan ibu kota bisa bertahan.

    Sedangkan, salah satu dampak positifnya adalah Jakarta akan bisa menunjukkan jati dirinya setelah ibu kota pindah. "Warga Betawi yang bertahan bisa semakin kokoh menunjukan identitas."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi dan Para Menteri di Pusaran Korupsi

    KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebagai tersangka. Artinya, dua menteri kabinet Presiden Joko Widodo terjerat kasus korupsi.