Operasi Zebra 2019, Kapolda Imbau Pengendara di Bawah Umur

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi memeriksa kelengkapan surat sejumlah pengendara motor saat Operasi Zebra 2017 di kawasan Kebon Nanas, Jakarta, 1 November 2017. Tempo/Ilham Fikri

    Polisi memeriksa kelengkapan surat sejumlah pengendara motor saat Operasi Zebra 2017 di kawasan Kebon Nanas, Jakarta, 1 November 2017. Tempo/Ilham Fikri

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Gatot Eddy Pramono memberikan imbauan khusus kepada pengendara kendaraan bermotor di bawah umur. Imbauan itu ia berikan menyusul Operasi Zebra 2019 yang akan mulai dilaksanakan hari ini hingga dua pekan ke depan.

    "Yang di bawah umur jangan bawa kendaraan, mereka belum terampil dan ini membahayakan. Nanti saat usianya siap, baru mereka bisa membuat SIM," kata Gatot di Polda Metro Jaya, Rabu, 23 Oktober 2019.

    Gatot bahkan menyarankan kepada pengemudi di bawah umur untuk belajar berkendara di sekolah informal. Saat kemampuan mengemudinya dan usia sudah mumpuni, ia baru menyarankan untuk mengambil SIM.

    "Saya imbau mari ikuti aturan lalu lintas jangan membahayakan dirinya dan lalu lintas," kata Gatot.

    Operasi Zebra 2019 akan berlangsung dari tanggal 23 Oktober hingga 5 November 2019. Sasaran dari operasi ini adalah pengendara yang tidak memiliki SIM dan STNK, kelengkapan kendaraan yang tidak cukup, serta melawan rambu lalu lintas.

    Gatot mengatakan tujuan dari operasi ini untuk menurunkan angka kecelakaan lalu lintas di jalan. Menurut Gatot, saat ini angka kecelakaan sudah mencapai angka 23 persen dan akan terus ditekan melalui Operasi Zebra ini.

    Soal jumlah personel dan titik operasi razia, Gatot tak menjelaskannya. Namun, ia memastikan titik razia Operasi Zebra akan ada di hampir di setiap wilayah. "Kami sudah petakan yang akan dijadikan target nanti," kata Gatot.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.