Semanan Masih Banjir, DKI: Daerah Cekungan, Harus Disedot

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Beberapa bocah mencari ikan saat banjir mulai di Perumahan Green Ville, Duri Kepa, Jakarta Barat, Ahad, 5 Januari 2020. Menurut warga banjir awal 2020 ini merupakan yang terparah sejak yang terakhir pada 2007.TEMPO/Ahmad Tri Hawaari

    Beberapa bocah mencari ikan saat banjir mulai di Perumahan Green Ville, Duri Kepa, Jakarta Barat, Ahad, 5 Januari 2020. Menurut warga banjir awal 2020 ini merupakan yang terparah sejak yang terakhir pada 2007.TEMPO/Ahmad Tri Hawaari

    TEMPO.CO, Jakarta - Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta menyatakan telah mendatangkan dua unit pompa tambahan untuk menyedot air banjir di kawasan Kelurahan Semanan, Kecamatan Kali Deres, Jakarta Barat, Senin, 6 Januari 2020. Hingga hari keenam, bah masih mengepung tiga RT di tiga RW Kelurahan Semanan.

    "Ketinggian air di Semanan masih 50 cm," kata Juaini di Balai Kota DKI, hari ini.

    Juaini menuturkan pemerintah mempunyai empat pompa di kawasan banjir Semanan. Namun, untuk mempercepat banjir surut, kata dia, perlu ada penambahan pompa mobile di wilayah tersebut. "Jadi kami tambahkan dua lagi."

    Menurut dia, banjir di kawasan Semanan, lama surut karena berada di daerah cekungan. Apalagi, kata dia, sejarahnya wilayah tersebut adalah rawa sebelum menjadi permukiman.

    "Seperti mangkok. Itu kan harus disedot," ujarnya. "Kalau ngikutin gravitasi gak mungkin air jalan sendiri. Kalau ini harus dibuang, jadi disedot."

    Kepala Pusat Data dan Analisis BPBD DKI, Muhammad Ridwan, mengatakan lokasi banjir hingga hari ini tinggal di kawasan Kelurahan Semanan. Pada pukul 06.00, pagi tadi, banjir di tiga RT di tiga RW, mencapai ketinggian 150 cm. Total pengungsi dari kawasan banjir di Semanan, mencapai 2.867 jiwa.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.