Debat Normalisasi vs Naturalisasi, Jokowi: Yang Penting Lebar

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi saat memimpin rapat terkait banjir di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 8 Januari 2020. TEMPO/Subekti

    Presiden Jokowi saat memimpin rapat terkait banjir di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 8 Januari 2020. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi tidak peduli dengan istilah normalisasi atau naturalisasi yang sempat diperdebatkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Menteri Pembangunan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono. Ia mengatakan penyelesaian banjir di DKI Jakarta salah satunya dengan perlebaran 14 sungai yang ada

    "Teknisnya mau pakai normalisasi atau naturalisasi silakan tapi dilebarkan semua sungai. Semua sungai harus dilebarkan," katanya dalam dialog dengan wartawan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 17 Januari 2020.

    Jokowi menjelaskan penanganan banjir di DKI Jakarta harus dikerjakan bersama-sama antara pemerintah pusat dan daerah. "Penanganan ini dari hulu sampai hilir satu garis, enggak bisa kerja sendiri-sendiri," tuturnya.

    Ia menuturkan di hulu pemerintah pusat sedang membangun dua bendungan, yakni Bendungan Sukamahi dan Bendungan Ciawi. Upaya rehabilitasi hutan, kata Jokowi, juga pemerintah lakukan.

    Selain itu, pemerintah pusat ingin membuat sebanyak mungkin penampungan air di hulu. "Dibuat sebanyak mungkin embung, situ, dulu ada 800 situ di atas tapi sekarang tinggal separuh kurang," ucap Jokowi.

    Sedangkan di sisi tengah, Jokowi menilai perlu ada perlebaran sungai. "Tanyakan ke Kementerian PU pembagiannya dengan pemerintah provinsi seperti apa," kata mantan gubernur DKI Jakarta ini.

    Adapun di hilir, Jokowi meminta waduk dan pompa air diperbanyak. Ia juga ingin giant sea wall ada untuk menahan air laut masuk ke Jakarta.

    Sebelumnya Anies dan Basuki sempat berdebat gagasan soal bagaimana memperbaiki aliran sungai di Jakarta untuk menangani banjir. Basuki sempat menyatakan bahwa banjir di Jakarta terjadi karena program Normalisasi Sungai Ciliwung tak berjalan sebagaimana semestinya. Dia menuding Pemprov DKI Jakarta gagal dalam melakukan pembebasan lahan untuk memperlebar Sungai Ciliwung.

    Program normalisasi sungai sendiri sempat mendapatkan tantangan dari Anies dengan menggelontorkan program naturalisasi. Anies Baswedan berpendapat, penataan bantaran sungai tak harus dengan cara menggusur masyarakat yang telah hidup di sana. Dia lebih menginginkan penataan dilakukan dengan mengembalikan sungai ke kondisi alami, meliuk-liuk dan ditumbuhi tanaman lebat sebagai habitat organisme tepian sungai.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ashraf Sinclair dan Selebritas yang Kena Serangan Jantung

    Selain Ashraf Sinclair, ada beberapa tokoh dari dunia hiburan dan bersinggungan dengan olah raga juga meninggal dunia karena serangan jantung.