Cerita Ustad Abdul Somad Minta Maaf Karena Tak Bisa Bela Anies

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ustad Abdul Somad. Instagram/@ustadzabdulsomad_official

    Ustad Abdul Somad. Instagram/@ustadzabdulsomad_official

    TEMPO.CO, Jakarta - Ustad Abdul Somad alias UAS diundang memberikan tausiah dalam peresmian renovasi Masjid Cut Nyak Dien, Jakarta Pusat, Ahad, 1 Maret 2020.

    Dalam ceramahnya itu, UAS menyinggung soal perundungan atau bully yang kerap dialamatkan Gubernur DKI Anies Baswedan, dari warganet.

    Anies yang hadir dalam peresmian itu hanya tersenyum menanggapi ceramah Somad.

    Tausiah yang menuai gelak tawa itu dimulai saat Somad menyampaikan bahwa dirinya tidak bisa ikut salat Isya berjamaah dengan para jamaah yang hadir di Masjid Cut Nyak Dien.

    Sebabnya, penceramah kondang itu mengaku telah melakukan salat jamak takdim atau menggabung salat Magrib dan Isya. Tausiah yang dimulai bada Magrib, kata Shomad, harus diselesaikan sebelum salat Isya, karena pria asal Pekanbaru, Riau, itu akan memenuhi undangan selanjutnya.

    "Saya akan menyampaikan ini (tausiah) sampai tepat pukul 19.20," ucap Somad. "Loh kok gak sampe solat berjamaah? Apa gak solat isya? Saya sudah jama Takdim."

    Somad pun berharap ketidak ikut sertaannya dalam salat berjamaah tidak menjadi fitnah. Sebab, Somad diundang gubernur untuk ikut meresmikan dan berceramah di Masjid Cut Nyak Dien.

    "Somad diajak gubernur gak solat Isya berjamaah, Entar gubernur lagi yang kena (bully)," ujarnya. "Saya mohon maaf Pak Gubernur, saya gak bisa bela di sosmed. Karena saya pun babak belur juga (di bully di sosmed)."

    Namun, Somad mengaku tidak menaruh dendam dengan perundungan yang diterimanya selama ini. "Tidak ada dendam, tidak ada marah. Enjoy semua kritikan itu. Kita anggap sebagai cara orang untuk menunjukkan bahwa kita rendah dihadapan Allah Swt."

    Menurut Somad, perundungan bisa mengajarkan seseorang menjadi lebih bijaksana. Sebab, kritkan bisa mengingatkan orang akan kekeliruannnya. Sebab, kalau tidak ada kritikan manusia cenderung akan menjadi jumawa.

    "Di sini saja saya ceramah berdiri. Biasa. Itu kalau tidak dibuly orang. Itu lama-lama ujung kita dipanggil kita Al mukarom profesor Ustad Abdul Somad LC MC. Tapi begitu kita dibuli, diejek orang baru sadar. Hei Somad. Hei tomat, hei kurus kering kerempeng," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.