TPU Karet Bivak Banjir Setinggi 30 Sentimeter Akibat Hujan Lebat

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana makam yang sepi dari peziarah di TPU Karet Bivak, Jakarta, Sabtu, 21 Maret 2020. Dinas Kehutanan DKI Jakarta sementara menutup aktivitas warga yang akan melakukan ziarah untuk mengurangi kegiatan di luar rumah, hal tersebut dilakukan guna mencegah penyebaran virus corona atau covid-19 yang tengah mewabah. Namun kegiatan operasional TPU tetap berjalan normal dan tetap melayani pemakaman. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Suasana makam yang sepi dari peziarah di TPU Karet Bivak, Jakarta, Sabtu, 21 Maret 2020. Dinas Kehutanan DKI Jakarta sementara menutup aktivitas warga yang akan melakukan ziarah untuk mengurangi kegiatan di luar rumah, hal tersebut dilakukan guna mencegah penyebaran virus corona atau covid-19 yang tengah mewabah. Namun kegiatan operasional TPU tetap berjalan normal dan tetap melayani pemakaman. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak Jakarta Pusat banjir akibat hujan lebat yang mengguyur Jakarta sejak Ahad dini hari, 7 Februari 2021. "Genangan air terjadi di blok makam 15,16 dan 17, setinggi 30 sentimeter," kata Kepala Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Pusat Mila Ananda di Jakarta.

    Suku Dinas mengerahkan tujuh tangki penyedot, dibantu petugas dari Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Pusat untuk menyedot air. Air itu dibuang ke kali di belakang lokasi TPU Karet Bivak.

    Baca: Ketinggian Muka Air di Jembatan Panus Naik Signifikan, Warga Diminta Waspada

    Mila mengatakan kontur tanah posisi makam blok 15,16, dan 17 berupa cekungan sehingga memang rentan genangan. Sedangkan posisi TPU Karet Bivak di bawah permukaan saluran air di jalan.

    "Dengan posisi ini, TPU Karet Bivak mudah tergenang karena posisi makam yang lebih rendah dari jalanan." Masalahnya, genangan itu tidak dapat dibuang ke saluran di jalan, melainkan ke kali di belakang lokasi itu. Bila hujan lebat, kali itu akan meluap dan mengenai lokasi pemukiman yang juga ada di belakang makam.

    Mila mengharapkan dapat segera berkoordinasi dengan Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Pusat untuk mengoptimalkan embung-embung yang dibuat di sekitar makam itu.

    "Saya berharap ada penanganan permanen.” Di belakang makam itu, kata Mila ada embung yang bisa diperdalam. Ia berjanji berkoordinasi dengan Suku Dinas SDA atau menambah pompa untuk mengatasi banjir.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.