5 Fakta Ruang Isolasi Pasien Covid-19 di Jakarta yang Makin Menipis

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menyiapkan ruang isolasi bagi pasien Covid-19 di tower 8 Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Pademangan, Jakarta, Selasa, 15 Juni 2021. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Petugas menyiapkan ruang isolasi bagi pasien Covid-19 di tower 8 Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Pademangan, Jakarta, Selasa, 15 Juni 2021. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Jumlah ruang isolasi pasien Covid-19 di DKI Jakarta kian menipis seiring peningkatan kasus corona di Ibu Kota. Ketersediaan ruang isolasi itu masih kurang meskipun kapasitasnya terus ditambah.

    Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta pada Ahad, 20 Juni 2021, penambahan kasus Covid-19 di Jakarta mencapai 5.582 orang dalam sehari. Angka itu naik dibanding data sehari sebelumnya, yaitu pada Sabtu, 19 Juni 2021, yang menembus 4.895 orang per hari.

    Berdasarkan data yang ada di situs corona.jakarta.go.id, per tanggal 21 Juni 2021 tercatat total 58.720 kasus Covid-19 merupakan pasien dengan usia 0-18 tahun baik laki-laki maupun perempuan.

    Berikut ini adalah sejumlah fakta mengenai menipisnya ruang isolasi di Jakarta.

    ADVERTISEMENT

    1. Tersisa hanya 10 persen tempat tidur isolasi di rumah sakit rujukan

    Dinkes DKI Jakarta menyatakan 90 persen dari sekitar 9.000 tempat tidur isolasi di RS rujukan Covid-19 sudah terpakai. Adapun Intensive Care Unit alias ICU terisi 81 persen dari sekitar 1.000 kapasitas yang disiapkan.

    Padahal, menurut Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti, kapasitas dari fasilitas tersebut terus ditambah. Ia mengatakan saat ini ada 106 rumah sakit di Ibu Kota yang menangani pasien Covid-19 dan 13 rumah sakit di antaranya didedikasikan seutuhnya untuk penanganan Corona. Adapun rumah sakit lainnya tetap menerima pasien non-Covid-19.

    2. Tak ada ruang khusus anak

    Pemerintah tidak akan menyediakan ruang khusus anak, meski peningkatan kasus Covid-19 di Ibu Kota diiringi tingginya angka kasus pada kelompok usia balita dan anak-anak. Hal ini, kata Widyastuti, karena penanganan pandemi Covid-19 di Jakarta bukan berdasarkan usia, tapi kegawatdaruratan kasusnya, baik untuk penyediaan tempat isolasi di rumah sakit pemerintah ataupun di rumah sakit swasta ataupun fasilitas lainnya.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Potongan Janggal Hukuman Djoko Tjandra, Komisi Yudisial akan Ikut Turun Tangan

    Pengadilan Tinggi DKI Jakarta mengabulkan banding terdakwa Djoko Tjandra atas kasus suap status red notice. Sejumlah kontroversi mewarnai putusan itu.