Penumpang Kereta Tak Keberatan Abonemen Dihapus

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO Interaktif, Jakarta -- Rencana PT Kereta Api Indonesia menghapus kartu berlangganan disambut baik pengguna jasa alat transportasi ini. Mereka tidak keberatan jika kartu trayek bulanan dan kartu langganan sekolah dihapus. Penghapusan abonemen tiket untuk semua rute kereta rel listrik ekonomi di Jakarta dan sekitarnya itu direncanakan dilaksanakan mulai 1 Desember mendatang.

    "Selisih tarif tiketnya tidak berbeda dibanding yang bukan berlangganan," kata Sarah, 16 tahun, pelajar SMK Bakti Jakarta. Dia mengaku kartu langganan sekolah memang murah, hanya Rp 15 ribu per bulan. "Tidak apa-apa jika dihapus," kata dia kemarin.

    Dihar Dakir, warga Serpong, Tangerang, mengatakan yang perlu ditertibkan adalah penumpang tidak bertiket. "Masih banyak penumpang kereta kelas ekonomi tidak memiliki tiket. Padahal harganya cuma Rp 1.500 sampai 2.000," ujar Dihar. Harga kartu abonemen kereta rel listrik ekonomi berkisar Rp 45-60 ribu per bulan.

    PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi I Jakarta memastikan penghapusan kartu abonemen kecil kemungkinan menimbulkan persoalan. "Hanya sedikit yang berlangganan, sekitar 700 orang," kata juru bicara PT Kereta Api, Mateta Rijalulhaq.

    Menurut Mateta, selama ini memang ada permainan yang dilakukan oleh pelanggan kartu berlangganan dan pelanggan dengan tiket pembelian langsung. "Dalam sebulan kami bisa menjaring penumpang tak bertiket lebih dari 100 orang," ujarnya.

    Mateta mengungkapkan, awalnya kartu abonemen dikeluarkan untuk pegawai negeri sipil. Seiring berjalannya waktu, fasilitas ini diperluas ke penumpang bukan pegawai negeri. Perubahan itu untuk meningkatkan pelayanan ke pengguna setia kereta api.

    Jika dikalkulasi, Mateta melanjutkan, pelanggan reguler bisa dipastikan mengeluarkan cukup banyak ongkos dibanding penumpang berlangganan. "Kalau tarif reguler sebulan bisa mencapai Rp 100 ribu, sebaliknya tarif berlangganan maksimal Rp 60 ribu," kata Mateta.

    Sebelumnya, komunitas penumpang kereta yang menamakan diri KRL Mania menyesalkan penghapusan abonemen. "PT KAI sebaiknya meningkatkan pemeriksaan karcis dibanding menghapus abonemen," ujar juru bicara KRL Mania, Agam.

    ADITYA BUDIMAN | ENI SAENI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    GERD Memang Tak Membunuhmu tapi Dampaknya Bikin Sengsara

    Walau tak mematikan, Gastroesophageal reflux disease alias GERD menyebabkan berbagai kesengsaraan.