Pelaku Potong 'Burung' Ajak Muhyi Menikah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kepolisian menggiring tersangka N, pemutilasi alat kelamin laki-laki di polsek Pamulang, Tangerang, (21/5). Wanita ini memotong alat kelamin AM hingga putus karena merasa sakit hati usai diajak melakukan hubungan intim. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Petugas kepolisian menggiring tersangka N, pemutilasi alat kelamin laki-laki di polsek Pamulang, Tangerang, (21/5). Wanita ini memotong alat kelamin AM hingga putus karena merasa sakit hati usai diajak melakukan hubungan intim. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Kuasa hukum Abdul Muhyi, Zaenal Abidin mengatakan keluarga Neng Nurhasanah sudah datang dua kali ke keluarga Muhyi, korban potong 'burung'. Pertama, ketika Muhyi masih dirawat di Rumah Sakit Daerah Tangerang Selatan. "Saat itu kedatangan mereka bertujuan untuk minta maaf," katanya. Kedatangan yang kedua adalah rencana untuk menikahkan tersebut.

    Menurut Zaenal, keluarga Neng Nurhasanah datang didampingi Lurah Kosambi, Ubay ke rumah orangtua Abdul Muhyi di Bojong Sari, Sawangan, Depok pada Jumat malam 24 Mei 2013 pukul 19.00. Mereka menyampaikan maksud untuk melamar Abdul Muhyi dan menikahkannya dengan Neng Nurhasanah. "Kami menerima Abdul Muhyi bagian dari keluarga kami dan akan kami nikahkan dengan Neng," kata Lurah Ubay yang mewakili keluarga Neng seperti ditirukan Zaenal.

    Menurut Zaenal, dalam kasus ini, kliennya jelas menjadi korban penganiayaan dan "pembunuhan" masa depan. "Pelaku sudah 'membunuh' masa depan Abdul Muhyi, secara psikologi hidupnya sudah hancur," katanya. (Baca: Senin, Korban Potong 'Burung' Laporkan Pelaku)

    Pertemuannya Muhyi dengan Neng berlangsung pada Selasa malam 13 Mei hingga Rabu pagi 14 Mei 2013 lalu. Mereka pertama kalinya bertemu di depan Universitas Pamulang. Keduanya berkeliling dari Pamulang menuju Sawangan, Depok dengan sepeda motor Muhyi. Ada beberapa tempat yang mereka singgahi: Telaga Kahuripan, Parung, masjid Serua Depok, dan balik ke Universitas Pamulang. Kata Muhyi, Neng menggodanya untuk berbuat lebih jauh. “Tapi hanya sebatas gesekan,” katanya. Muhyi menyangkal adanya persetubuhan paksa di lorong gang di Reni Jaya.

    Tragedi berdarah “burung” terjadi di sekitat Universitas Pamulang. Neng ingin melihat kemaluannya lagi. Mereka pun pindah ke tempat gelap. “Tiba-tiba saya rasain sakit dan perih. Nggak tahunya anu saya sudah dipotong,” katanya. (Baca: Korban Potong 'Burung' Minta Pelaku Divisum)

    Penjelasan Muhyi berbeda dengan keterangan Neng saat diperiksa penyidik di Polsek Pamulang, Selasa 21 Mei lalu. Neng mengaku dipaksa melayani nafsu Muhyi. Adapun polisi telah menetapkan Neng sebagai tersangka pemotongan alat kelamin Muhyi. Sial pula bagi Muhyi. Sudah "burung" hilang, ia juga terancam dipidana karena melakukan pemaksaan persetubuhan dan pencabulan. (Baca: Digugat Pencabulan, Korban Potong 'Burung' Melawan)

    JONIANSYAH | NIEKE INDRIETTA

    Berita Lainnya:
    Eyang Subur Lepas Empat Istrinya  
    Fatin Disambut Seprei dan AC Baru
    Ini 32 Anggota DPRD DKI Interpelator Jokowi
    Lepas Empat Istrinya, Eyang Subur Tak Perlu Cerai
    Majelis Ulama Aceh: Haram, Perempuan Dewasa Menari  
    Ketua Fraksi Demokrat Nilai Interpelasi KJS Kandas  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.