Jokowi: Kartel dan Spekulan Bermain di Jakarta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung yang memakai topeng Jokowi menari  dalam acara Djakarta Warehouse Project di Ecopark, Ancol, Jakarta, Jumat (13/12). TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Pengunjung yang memakai topeng Jokowi menari dalam acara Djakarta Warehouse Project di Ecopark, Ancol, Jakarta, Jumat (13/12). TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO , Jakarta:Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengungkap masih adanya permainan spekulan dan kartel jual-beli pangan di Jakarta. Jokowi merujuk pada stok dan kebutuhan beras di Pasar Cipinang.  Pasar Cipinang memiliki stok beras 30 ribu ton.  Stok itu akan habis dalam sepuluh hari saja.

    "Celah ini lah yang kemudian dimanfaatkan kartel dan spekulan," kata Jokowi di auditorium Harun Nasution kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah pada Sabtu, 21 Desember 2013. Spekulan bermain di tingkat pasar kecil. Dampaknya harga beras lebih mahal. "Saya akui untuk Jakarta belum punya konsep matang dalam membangun kedaulatan pangan.”

    Jokowi mengaku sedang merancang konsep kedaulatan pangan. Namun, konsepnya itu dianggap tak akan bisa berjalan tanpa keterlibatan pemerintah pusat, terutama dalam hal koordinasi dengan provinsi lain serta infrastruktur pendukungnya.

    Dia menganggap Pemerintah Pusat belum memiliki rencana produksi dan politik yang jelas dalam ketahanan pangan.  Ketidakjelasan dalam proses produksi dan politik memicu munculnya spekulan dan kartel. Jokowi mengaitkan masalah ini dengan kesejahteraan nelayan dan petani.

    SYAILENDRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.