Katulampa Siaga 1 Ketinggian 230 cm, Bogor Banjir

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Badan SAR Nasional memantau status ketinggian air di pintu air Katulampa yang meningkat menjadi ketinggian 160 cm di Bogor, Jawa Barat (17/1). TEMPO/Subekti.

    Badan SAR Nasional memantau status ketinggian air di pintu air Katulampa yang meningkat menjadi ketinggian 160 cm di Bogor, Jawa Barat (17/1). TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Bogor -  Akibat ketinggian air Sungai Ciliwung yang terpantau di papan mercu Bendung Katulampa, Kota Bogor yang mencapai 230 sentimeter, atau satus siaga 1, Rabu (29/1/2014) malam, sebagian besar kios di Pasar Tradisional Warung Jambu Dua, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, terendam.

    Akibatnya ratusan pedagang yang sebagian besar penjual sayur, buah dan sembako mengevakuasi barang dagangannya. "Genangan air sungai mulai masuk sekitar pukul 23:30 karena meningkatnya ketinggian air Ciliwung," ungkap Koordinator Bogor Sar Community, Iwan Firdaus, saat ditemui di Bendung Katulampa Bogor, Kamis, 30 Januari 2014,dinihari.

    Menurut dia, selain merendam pasar  Jambu Dua, air juga merendam tiga rumah yang lokasinya berada di bibir Sungai Ciliwung tepatnya tidak jauh dari jembatan Situ Duit Warung Jambu. "Petugas kami masih melakukan proses evakuasi dan beberapa lokasi perumahan Graha Indah, " kata Iwan.

    Menurutnya, untuk mengantisipasi meluasnya luapan air jika merendam sejumlah kampung dan perumahan, pihaknya menyiapkan perahu karet. "Kita siagakan 8 perahu karet dan 10 orang personel di lapangan jika ada warga yang memerlukan untuk dievakuasi karena rumahnya terendam air, " kata dia. 

    Petugas Jaga Bendung Katulampa Andi Sudirman mengungkapkan, pada Kamis (30/1/2014) dini hari atau pukul 01:00 ketinggian air di Mercu Bendung Katulampa mulai surut dan dalam posisi 200 sentimeter. 

    M SIDIK PERMANA.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.