Saat 'Rush Hours' KCJ jadi Idola  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang menaiki kereta Comuter Line tujuan Bogor-Jakarta Kota, 2-10, 2012. TEMPO/Subekti.

    Penumpang menaiki kereta Comuter Line tujuan Bogor-Jakarta Kota, 2-10, 2012. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta -Juru bicara PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ), Eva Chairunnisa, mengatakan rangkaian kereta yang selalu penuh saat 'rush hours' adalah satu hal yang tak dapat dihindari. Menurut dia, itu sudah menjadi resiko para penumpang yang naik rangkaian tersebut pada jam-jam sibuk itu.(Baca: KRL Tertahan di Dua Stasiun, Penumpang Menumpuk di Stasiun Bogor)

    "Kereta penuh saat jam masuk kerja dan jam pulang kerja sudah tak bisa diapa-apakan lagi," kata dia saat dihubungi Tempo, Senin, 8 Desember 2014.

    Dia tahu bahwa banyak penumpang protes karena banyaknya jumlah orang yang naik kereta. Akibatnya, kereta penuh sesak dan kadang tak bisa langsung jalan karena pintu otomatis tak dapat ditutup. Tapi, kata dia, itu adalah pilihan mereka sendiri.

    "Tak dapat dipungkiri bahwa kereta adalah transportasi yang lebih efisien dari segi waktu dan harga. Makanya warga pilih kereta," kata dia. (Baca: Mulai Hari Ini, 29 Perjalanan KRL Jakarta - Bogor Dikurangi)

    Dia juga menampik bahwa penambahan 31 jadwal perjalanan kereta bukan sebagai solusi untuk mengatasi penumpukan penumpang saat 'rush hours'. Dia mengatakan, penambahan jadwal dimaksudkan agar lebih banyak lagi orang yang alih moda transportasi dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.

    "Tujuan kami bukan mengurai kepadatan di dalam gerbong kereta, tapi mengalihkan warga lebih banyak lagi agar tertarik menggunakan kereta," kata dia.

    Adapun, PT KCJ berjanji akan meningkatkan pelayanan fasilitas mereka. Salah satunya adalah dengan mengoptimalkan pendingin udara yang ada di dalam gerbong dan memperbaiki gerbong-gerbong rangkaian yang rusak.

    "Jadi, walaupun penuh sesak, penumpang tetap dapat terbantu dengan udara yang sejuk di dalam gerbong," kata dia. (Baca: Sebab Rel Kereta Patah di Cilebut)

    YOLANDA RYAN ARMINDYA
    Terpopuler
    Ini Kata Sandi untuk Beli Miras Oplosan di Bogor 
    Rawan Kaki Gajah, Begini Camat di Depok Atasinya
    Pembeli Miras Oplosan Gunakan Kata Sandi
    Tujuh Kecamatan Ini Hanya Ada 1 Puskesmas
    Polisi Tangkap Dua Perampok di Taksi Putih


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.