Kisah Ahok dan Keluarga Saat Diancam Preman Pluit  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berbincang dengan istrinya Veronica Tan (kanan)  sebelum dimulainya acara pelantikan sebagai Gubernur DKI Jakarta di Istana Negara, 19 November 2014. Tempo/Aditia Noviansyah

    Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berbincang dengan istrinya Veronica Tan (kanan) sebelum dimulainya acara pelantikan sebagai Gubernur DKI Jakarta di Istana Negara, 19 November 2014. Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengisahkan pengalaman pahitnya dalam menangani permasalahan di Ibu Kota. Kali ini soal penggusuran warga Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara, pada pertengahan 2013. Permukiman mereka digusur karena berlokasi di atas lahan Waduk Pluit. Ahok berkisah di depan ratusan siswa Sekolah Menengah Atas Santa Laurensia, Tangerang Selatan.

    Ahok menuturkan, ketika penggusuran berlangsung, tiba-tiba ia didatangi oleh intel kepolisian. Berdasarkan laporan intel, ujar Ahok, ribuan preman Waduk Pluit bakal menggasak kediamannya yang terletak tak jauh dari lokasi penggusuran. "Waktu bersihin Waduk Pluit, rumah saya mau diserbu sama preman," kata Ahok di Balai Kota, Kamis, 18 Desember 2014.

    Rumah Ahok  terletak di perumahan Pantai Mutiara, Pluit, atau kurang-lebih 1 kilometer dari lokasi Waduk Pluit.

    Mendapat laporan rumahnya bakal diserang preman, Ahok berpikir untuk meminta bantuan tentara. Belakangan, Ahok berubah pikiran. "Sudah, biarin saja diserang juga. Paling ribut dengan pengawal saya yang sedikit," ujar Ahok.

    Tak lupa, Ahok pun mengabari ketiga anaknya, Nicholas Sean Tjahaja Purnama, Nathania Purnama, dan Daud Albeener, serta istrinya, Veronica Tan. Menerima kabar kediamannya bakal diserbu, Veronica, ujar Ahok, "Mah diam-diam saja."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.