Dirisak Iklan, Sekda Bekasi: Sakitnya Tuh di Sini  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Meme/Gambar Plesetan Kota Bekasi. (sidomi.com)

    Meme/Gambar Plesetan Kota Bekasi. (sidomi.com)

    TEMPO.CO, Bekasi - Warga Bekasi dihebohkan dengan munculnya iklan operator seluler yang dianggap merisak kota tempat tinggal mereka. Menanggapi hal ini, Sekretaris Daerah Kota Bekasi Rayendra Sukarmadji mengatakan tak menutup kemungkinan pihaknya menempuh jalur hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab atas iklan itu.

    Rayendra menuturkan iklan yang memperbandingkan jarak ke Bekasi dengan Australia tersebut menyakiti warga Bekasi. "Sakitnya tuh di sini, Mas," ujarnya menirukan lirik sebuah lagu dangdut. (Baca: Setelah Risak Bekasi, Indosat Gelar Pengobatan Gratis)

    Menurut Rayendra, dirinya sudah bertemu dengan PT Indosat selaku pemilik iklan dalam acara Car-Free Day di Jalan Ahmad Yani, Ahad, 11 Januari 2015. Dalam kesempatan itu, Rayendra sempat melempar candaan kepada perwakilan Indosat. "Ke Australia delapan jam, Bung," katanya.

    Sebelumnya, sejumlah elemen masyarakat Bekasi mengadukan Indosat ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik dan penghinaan. Mereka menganggap iklan yang bernarasi "Liburan ke Aussie lebih mudah dibanding ke Bekasi" telah melecehkan Bekasi.

    Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menyatakan kecewa terhadap Indosat karena menyudutkan daerah yang dipimpinnya. "Bagi saya, itu pelecehan dari produk iklan yang tidak ada dasar ukurannya," tutur Rahmat. Menurut dia, iklan yang dibuat Indosat tersebut sangat tendensius. Dia menuding Indosat hanya ingin mencari popularitas tanpa memikirkan dampaknya bagi masyarakat, khususnya warga Bekasi.

    ADI WARSONO

    Berita Terpopuler
    2 Perusahaan Ini Setor Duit ke Budi Gunawan
    Diancam Bom, Kantor VoA Indonesia Gelap Gulita

    Jokowi: Izin Penerbangan Bertahun-tahun Dibiarkan





     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.