Ada Bor Raksasa di Jalan Otista III

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja mengamati sebuah bor raksasa yang digunakan dalam proyek pembangunan sodetan Ciliwung di Kebon Nanas, Jakarta, 16 Januari 2015. TEMPO/Frannoto

    Pekerja mengamati sebuah bor raksasa yang digunakan dalam proyek pembangunan sodetan Ciliwung di Kebon Nanas, Jakarta, 16 Januari 2015. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.COJakarta - Masyarakat bakal tak bisa melintas di Jalan Otista III, Jakarta Timur, selama kurang-lebih dua bulan sejak Selasa, 22 April 2015. Penyebabnya, proyek pengeboran sudetan Kali Ciliwung hampir menembus situs arriving shaft.

    Lurah Cipinang Cempedak Bambang Novianto mengatakan pengalihan arus di Jalan Otista III dilakukan karena kontraktor sudetan bakal mengangkat mesin bor raksasa. "Aspal di Jalan Otista III bakal dibongkar karena di bawah tanah sudah dibangun lobang untuk jalan keluar bor," ujar Bambang di kantornya, Senin, 20 April 2015.

    Secara terpisah, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Teuku Iskandar menuturkan situs arriving shaft di Jalan Otista III dibangun karena pembebasan lahan di situs inlet Bidara Cina tak kunjung rampung. Sebab, semula mesin bor direncanakan langsung menembus dari situs outlet di Kebon Nanas hingga situs inlet di Bidara Cina. 

    Iskandar menjelaskan, bor raksasa yang membuat gorong-gorong sudetan berdiameter 3,5 meter. Bor itu didatangkan langsung dari Jepang. Kelebihan bor itu ialah dapat bekerja secara simultan. Artinya, saat mengebor tanah, mesin bisa sekaligus memasang cincin beton. "Kecepatan pengeboran bisa sampai pasang lima cincin beton per hari," ujar Iskandar.

    Pengeboran dari situs outlet Kebon Nanas dimulai awal tahun ini. Iskandar, bila mesin bor sudah menembus situs arriving shaft di Jalan Otista III, proyek sudetan sudah separuh jalan. 

    RAYMUNDUS RIKANG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.