Megawati, Kartini Modern di Mata Wagub Djarot  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Megawawati Soekarno Putri duduk bersama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (kedua kanan), Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat (kanan), Ibu Veronica Tan (kedua kiri) dan Ibu Heppy Farida (kiri) jelang pelantikan Wagub DKI Jakarta di Balai Agung, Balaikota Jakarta, 17 Desember 2014. ANTARA FOTO

    Megawawati Soekarno Putri duduk bersama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (kedua kanan), Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat (kanan), Ibu Veronica Tan (kedua kiri) dan Ibu Heppy Farida (kiri) jelang pelantikan Wagub DKI Jakarta di Balai Agung, Balaikota Jakarta, 17 Desember 2014. ANTARA FOTO

    TEMPO.COJakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat berkomentar soal Hari Kartini yang diperingati tiap 21 April. "Yang penting adalah semangat perjuangannya, bukan hanya sekadar seremonial," ujar Djarot di Balai Kota, 21 April 2015.

    Djarot mengatakan figur Kartini yang relevan saat ini terwakili oleh Megawati Soekarnoputri yang pernah menjabat Presiden Republik Indonesia. 

    Djarot mengungkapkan alasannya bahwa perempuan dan politik itu bukan dua bidang yang terpisah. Saat ini, ujar Djarot, perempuan dan politik seolah dua dunia yang terpisah. 

    Akibatnya, sampai sekarang banyak perempuan terlihat alergi memasuki dunia politik. "Perempuan jadi pemimpin dong, masuk partai politik, aktif dalam organisasi, tak hanya jadi kanca wingking (teman belakang)," tutur Djarot.

    Djarot meminta kaum perempuan jangan hanya bergelut di ruang domestik. Mereka harus bisa menunjukkan kemampuannya di ruang publik. Djarot lantas menceritakan pengalamannya saat berdiskusi dengan Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg.  

    Dengan Erna, Djarot sempat berdiskusi mengenai lingkungan hidup. Perempuan ini sangat perhatian dan semangat kala bicara soal pengurangan emisi gas. 

    Dia membandingkan kondisi itu dengan Indonesia. Djarot melihat partisipasi perempuan ikut terjun ke ruang politik, seperti menjadi anggota Dewan, berkurang. Jatah 30 persen untuk perempuan di Dewan belum terpenuhi. 

    "Untuk penyusunan calon legislatif saja susah setengah mati. Mungkin faktornya, ya, hubungan di masyarakat, kaitan dengan keluarga, kemudian budaya patriarki," kata Djarot.

    Perempuan, menurut Djarot, seharusnya bisa berbuat lebih banyak untuk bangsanya, terutama bagi kaum perempuan, karena mereka punya potensi dan peluang yang besar. "Saya dengan perempuan itu tidak masalah, kami setara," ujar Djarot. 

    Djarot tidak menampik bahwa kenyataannya memang ada hal-hal yang bisa dilakukan laki-laki tapi sulit dilakukan perempuan, demikian sebaliknya. "Hamil dan melahirkan, laki-laki tidak bisa kan? Hal seperti itu menunjukkan perempuan itu lebih lengkap," tutur Djarot.

    AISHA SHAIDRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.