Bagaimana Komunitas Condet Menghijaukan Ciliwung?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anggota dari Jaringan Komunitas Ciliwung mengambil sampah di bantaran kali Ciliwung kawasan Condet, Jakarta, Minggu (4/12). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Sejumlah anggota dari Jaringan Komunitas Ciliwung mengambil sampah di bantaran kali Ciliwung kawasan Condet, Jakarta, Minggu (4/12). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO , Jakarta: Lahan yang terletak persis di pinggir Sungai Ciliwung di kawasan Condet, Jakarta Timur, itu tampak lebih hijau dibanding area di sisi kiri-kanannya. Di tanah seluas 7.000 meter persegi tersebut, pohon salak, duku, mangga, dan aneka tanaman buah lainnya serta berumpun-rumpun bambu tumbuh lebat. Terpaan angin dan kerimbunan pohon membuat panasnya Jakarta tak begitu terasa di tempat ini.

    Komunitas Ciliwung-Condet-lah yang membuat lahan hijau ini. Ketua komunitas itu, Abdul Kodir, sengaja membuat 'hutan kecil' ini agar ekosistem di sekitar Ciliwung tetap terjaga. Ia memanfaatkan tanah keluarga yang berada di bantaran sungai untuk menyerap air dan menjaga agar Ciliwung tak semakin dangkal.

    Pada lahan yang terletak di Jalan Munggang, Condet Bale Kembang Nomor 6, RT 10 RW 04 Kramat Jati, Jakarta Timur ini, Kodir juga membangun markas komunitas. Sebuah pendapa kecil dan bangunan seperti rumah semi terbuka, lengkap dengan dapur dan kamar mandi, ia dirikan sebagai tempat berkumpul dan berdiskusi.

    Kodir tak hapal kapan tepatnya kelompok itu terbentuk. Namun, seingat dia, acara kumpul-kumpul bermula tak lama setelah Jakarta didera banjir besar pada 1997. Saat itu, orang-orang yang bermukim di pinggir kali merasakan betul dampak genangan air kala itu. Berharap banjir tak terulang, Kodir dan kawan-kawannya mulai mendiskusikan pelestarian tanaman di pinggir kali. Dari obrolan itu, terbentuklah Wahana Komunitas Lingkungan Hidup.

    Untuk mempersempit lingkup, Kodir membuat komunitas Ciliwung Condet antara 2004 dan 2006. Ia tak pernah mencatat tanggal pasti berdirinya komunitas ini, sama halnya dengan nama dan jumlah orang yang bergabung di komunitasnya. Buat Kodir, orang yang bergabung dengan komunitasnya bebas keluar dan masuk sesuka hati. Sebab, ia tahu betul komunitas ini tak memberikan pemasukan kepada mereka. "Kami tak bisa memberikan apa-apa," katanya pekan lalu.

    Yang ia tahu, hampir setiap hari ada saja orang yang mampir ke pendapanya. Mereka saling berdiskusi soal Kali Ciliwung atau hanya sekadar ngopi-ngopi. "Kadang ada yang tidur di sini," ujar Kodir.

    Komunitas tersebut awalnya hanya fokus menjaga wilayah Condet sebagai daerah konservasi buah-buahan sesuai dengan keputusan Gubernur Ali Sadikin pada 1975 dan surat keputusan gubernur pada 1989, yang menetapkan salak Condet dan burung elang bondol sebagai maskot DKI Jakarta.

    Aktivitas mereka kemudian semakin meluas. Kini, mereka tak hanya mengurusi salak, tapi juga memberikan informasi seputar ekosistem kali kepada masyarakat yang berkunjung ke markas komunitas. Mereka membuat Sekolah Alam Ciliwung, yang menjadi tempat belajar bagi anak-anak.

    “Kalau ada anak-anak dari sekolah yang datang ke sini, kami beri tahu mereka bahayanya membuang sampah sembarangan. Kami langsung mempraktekkan bersama mereka, dari memungut sampah hingga membakarnya,” kata Syahril Sidiq, desainer grafis yang bergabung dengan komunitas tersebut empat tahun lalu.

    Setiap Sabtu dan Ahad, komunitas ini juga menyusuri Sungai Ciliwung. Mereka mendata ekosistem dan peninggalan yang ada di sekitarnya. Dari susur kali ini, mereka mendapat banyak temuan. Misalnya, keberadaan Vila Nova, yang merupakan bangunan peninggalan zaman Belanda di Kelurahan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Vila yang didirikan pada 1700-an itu kini terbengkalai. “Padahal vila ini bisa dijadikan museum,” kata Kodir. Komunitas Ciliwung Condet sedang berupaya agar pemerintah DKI Jakarta mau merevitalisasi vila ini.

    NUR ALFIYAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.