Kenapa Perbatasan Jakarta-Bekasi Disebut Biang Macet?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana kemacetan di sekitar Mall Metropolitan, Bekasi, Jawa Barat, 13 Oktober 2014. Kota ini berada di urutan keenam dengan laju kendaraan 21,86 Km/Jam. Empat kota di peringkat VII-X antara lain: Tangerang, Medan, Makassar dan Semarang. TEMPO/M Iqbal Ichsan

    Suasana kemacetan di sekitar Mall Metropolitan, Bekasi, Jawa Barat, 13 Oktober 2014. Kota ini berada di urutan keenam dengan laju kendaraan 21,86 Km/Jam. Empat kota di peringkat VII-X antara lain: Tangerang, Medan, Makassar dan Semarang. TEMPO/M Iqbal Ichsan

    TEMPO.CO, Bekasi - Kepala Dinas Perhubungan Kota Bekasi Yayan Yuliana mengatakan kemacetan di sekitar Pondok Gede atau daerah perbatasan dengan Jakarta terjadi lantaran belum ada transportasi massal yang bisa dijangkau warga. Akibatnya, sebagian besar masyarakat menggunakan kendaraan pribadi.

    "Warga baru mengandalkan Transjakarta di Halte Pinang Ranti, Jakarta Timur," kata Yayan, Ahad, 27 September 2015. Menurut dia, sebagian besar masyarakat dari Pondok Melati, Jatisampurna, dan Pondok Gede yang memiliki aktivitas di Jakarta terpaksa menggunakan kendaraan pribadi. (Baca: Kata Ahok, Ormas Galak Jitu Atasi Kemacetan Jakarta)

    Akibatnya, terjadi kepadatan arus lalu lintas di sekitar Pondok Gede. Hal ini diperparah oleh sempitnya jalan layang Jatiwaringin yang berada di atas jalan tol Jakarta-Cikampek. Jalan layang selebar 8 meter itu tak mampu menampung kendaraan yang melintas, baik roda dua maupun roda empat. "Jalan arterinya sudah lebar, tapi jembatannya sempit," katanya.

    Ia menyambut positif rencana pemerintah melebarkan jalan tersebut menjadi 16 meter, sehingga di titik itu arus lalu lintas menjadi lancar, baik ke arah Jakarta maupun ke Bekasi dari Kalimalang atau jalan tol. "Itu salah satu solusi mengurai kemacetan," katanya. (Baca: Ahok: Mohon Maaf, Jakarta Tambah Macet sampai 2018)

    Yayan menambahkan, pihaknya mempertimbangkan akan menambahkan moda transportasi baru sebagai penumpang light rail transit (LRT) agar masyarakat tak bergantung pada kendaraan pribadi. Menurut dia, rencananya, halte kereta ringan itu dibuat di Jatibening, yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari Jatiwaringin.

    Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Air Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan pemerintah menyiapkan dana sebesar Rp 67 miliar untuk melebarkan jalan layang Jatiwaringin yang berada di atas jalan tol Jakarta-Cikampek. Dana itu bersumber dari APBD Kota Bekasi Rp 10 miliar, Jawa Barat Rp 27 miliar, dan Jakarta Rp 30 miliar. (Baca: Akses ke Jakarta Macet, Bekasi Bangun Jembatan Rp 67 Miliar)

    ADI WARSONO

    Simak juga:
    Ketinggian Air Laut Meningkat, Jakarta Siaga Banjir Rob
    Aneh, Panglima Boko Haram Tak Bisa Baca Al-Quran dan Mengaji


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Aman Berkendara dan Beraktivitas di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

    Jika harus keluar rumah, masyarakat wajib waspada dan melindungi diri dari Covid-19. Simak tips aman berkendara saat kasus Covid-19 merajalela.